Tuesday, 3 December 2013

"Wow factor" film Gie.

Saya lupa tepatnya tahun berapa pertama kali film ini keluar, dan di bioskop mana untuk menontonnya yang pasti saya ingat adalah saat itu masih duduk di bangku kuliah antara semester dua atau tiga, atau mungkin ingatan saya juga salah. 

Hari ini saya kembali menonton film "Gie" lewat website Youtube, dan terima kasih kepada sang pemilik akun yang meng-upload filmnya sampai habis. Ketika menontonnya kembali, perasaan saya masih sama. Film ini, memiliki "wow factor" tersendiri dan somehow it feels really emotional for me,(istilah ini, saya baru tahu dan pahami dari hasil bincang-bincang dengan salah satu teman). Dan, ya, "wow factor" itu masih saya rasakan, sama seperti pertama kali saya menontonnya. Hanya saja, kali ini saya kurang lebih memperhatikan beberapa aspek yang ada di film ini.

Ok, where to begin. Akting para pemain. Hmm, menurut saya, hampir di semua para pemain di film ini, baik yang utama atau membantu, memiliki karakter yang cukup kuat. Walaupun Nicholas Saputra (sebagai Gie) adalah sang bintang utama dari cerita film ini. Segala macam bentuk emosi yang ingin ditampilkan oleh sang sutradara diperankan cukup baik oleh setiap para pemain meskipun ada beberapa hal yang sedikit menganggu saya. Cara jalan Soe Hok Gie yang menurut saya kurang jantan, karena dalam benak saya, Gie, sosok mahasiswa yang berkarakter kuat sebagai laki-laki, dengan pemikiran-pemikirannya yang berani, lugas, dan memberontak, meskipun ada sisi sensitif, lembut melankolis di dalam dirinya. Apakah cara jalan dan pemakaian atribut tas di bahu menjadi sebuah simbol sensitivitas dari Gie??, atau ini adalah hasil dari bagian riset dari tim pembuat film mengenai karakter fisik Gie, sehingga tidak hanya menampilkan kisah seorang mahasiswa pemberontak yang memperjuangkan keadilan di Indonesia tapi juga ingin menampilkan bagaimana gerak gerik Gie ketika di masa hidupnya, dan juga Nicholas Saputra terlalu tampan untuk mewakili Gie. Meskipun ketampanan Nicholas Saputra bisa dikatakan sebagai daya tarik untuk minat masyarakat menonton film yang cukup kental bercerita tentang sejarah indonesia di masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Soeharto. Jujur saja, pada masa film ini keluar siapa yang mau nonton film tentang sejarah sih??. Kecuali bagi mereka yang mengenal sosok Gie dan tahu akan perjuangan dia, sebelumnya siapa yang mengenal Gie, apalagi generasi saya yang cenderung cuek dan lebih tertarik pada budaya barat, kecuali bagi mereka yang aktivis kampus (mungkin).

Ketampanan pemeran utama memang jadi daya tarik yang sukses tapi bagusnya Nicholas Saputra cukup piawai memainkan karakter Gie, meskipun saya cenderung lebih memperhatikan akting Jaka yang diperankan oleh Donny Alamsyah. Karakternya tidak berperan banyak tapi cukup mencuri perhatian dengan aktingnya yang mampu mewakili kerasnya jiwa pemberontak idealis kampus namun kalah juga akhirnya dengan materi dan kemewahan yang ditawarkan oleh kedudukan di pemerintahan. Singkat tapi padat dan kurang lebih mewakili realita yang ada di pemerintahan saat ini, dan terbukti banyak yang seperti itu bukan?.

Dari durasi film yang kurang lebih dua jam, bagian paling menarik bagi saya adalah tembok yang pertama kali muncul di adegan pertama film ini. Di mana, dari awal hingga akhir tembok ini hampir selalu ada di setiap adegan, seperti menjadi simbol pergantian waktu. Mulai dari penulisan revolusi, ganyang PKI, hingga akhirnya tembok itu diruntuhkan dan diganti dengan pagar seng yang bertuliskan "dilarang berjualan di sini", dan pada masa adegan itu berlangsung militerisme berkuasa di pemerintahan Soeharto. Tembok itu seperti menjadi simbol saksi bisu sejarah dari apa yang dialami Soe Hok Gie dan masyarakat pada masa itu. Entah ada atau tidak benarnya tembok itu di kehidupan nyata, tapi sang sutradara seperti ingin menyiratkan pesan tersendiri dengan visual tembok itu. Lalu, suara adzan yang hampir ada di setiap adegan yang menggambarkan visualisasi pagi, malam, atau pun subuh , entah apa maksud dari sutradara menampilkan visual rumah-rumah dan menara mesjid dengan suara adzan. Apa yang saya tangkap adalah bahwa masyarakat indonesia didominasi beragama Islam dan Gie adalah warga indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen Katolik yang menjadi minoritas, dan visual ini menyiratkan bahwa sosok Gie tidak pernah membeda-bedakan manusia atas dasar agama atau ras dan yang dia pedulikan adalah sebuah keadilan bagi bangsanya.

Hmm, kemudian yang membuat saya berpikir juga adalah bagaimana tim properti mencari lokasi yang mampu menampilkan kondisi kota Jakarta di tahun 60-an, mengingat cukup sulit mencari gedung-gedung atau rumah-rumah tua yang masih berdiri di Jakarta, dan juga mengumpulkan sekian banyak mobil-mobil yang mewakili tahun tersebut. Saya sebagai penonton jadi terbawa suasana akan kota Jakarta tempo dulu, apalagi ketika Gie pulang sekolah setelah pembagian raport bersama Ibunya, dan ketika Gie minum es cendol dan sang Ibu datang menghampiri. Saya jadi bertanya-tanya apa benar dulu di Jakarta ada taman seperti itu, dimana para pedagang berkumpul menjajakan jualannya. Taman atau pasar pedagang kaki lima mangkal itu memberi kesan yang sangat natural dan humanis. Meskipun kini Jakarta masih memiliki taman di tengah kota tapi nuansanya berbeda, angkuh dan tidak bersahabat walau sang taman mengisyaratkan untuk datang berkunjung, tapi manusia modern lebih memilih ke mall daripada ke taman kota karena dianggap tempat kumpulnya kelas sosial ke bawah dan terkesan kriminal. Di film ini, bagi saya taman kota itu lebih bersahabat, setiap kelas sosial datang dan menikmati atau paling tidak melewati taman itu. Ah, jaman sudah berubah.

Cinta. Kisah drama cinta. Sepertinya film kurang sah kalau tidak ada drama cintanya. Hmm, kisah cinta anak muda, di film ini tidak banyak adegan ataupun naskah yang menceritakan kisah cinta Gie secara gamblang, namun beberapa adegan mengisyaratkan cinta Gie jatuh pada gadis bernama Ira. Ketika Gie datang ke rumah Ira dan duduk berdua meskipun ditambah dengan naskah pertanyaan Gie terhadap Ira, adakah kerikuhan yang dirasa Ira ketika berdua dengannya. Sebenarnya, menurut saya tanpa ada naskah pun emosi sudah terbangun dengan alunan musik dari Titiek Puspa lalu ditunjang pula dengan suasana lampu temaram sudah berhasil membangun suasana dramatis romantis, sehingga tanpa adanya Gie bertanya pun, kerikuhan itu sudah terasa, tapi toh  mungkin tujuan sutradara, naskah itu lebih ingin menekankan dan memastikan perasaan yang ada di antara mereka biar ada bumbu drama semakin menjadi biar tidak seperti film tanpa naskah atau hanya pemanis saja. Kemudian, adegan Gie tertawa di depan pagar rumah diselingi dengan menangis namun ditutupi dengan tawa, kesan yang didapat betapa Gie merindukan dan membutuhkan Ira pada saat itu, hingga tawa dan tangis Gie menjadi naskah itu sendiri. 

Lalu, adegan Gie duduk di puncak Gunung Semeru, ketika dia menulis di buku hariannya dengan kalimat, "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta". Ah, kalimat ini maknanya dalam, begitu menjelaskan secara tersirat kenapa Gie dan Ira tidak bisa bersama (mungkin) dan visualisasi dengen kesendirian Gie di puncak sambil duduk setelah mengalami rasa lelah, terasing, patah hati, namun Gie tahu kemana dia ingin berpulang, pada akhirnya seberapa kuat, tegarnya laki-laki, dia akan butuh perempuan sebagai sandaran tempat berpulang melepas lelah dan rindu. Dan, ya, ternyata cinta Gie begitu dalam kepada Ira dan dipendam, dan menjadi penutup akhir cerita Gie di masa hidupnya.

Dramatis dan penuh emosi,  lalu narasi kalimat Gie "haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram, wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti, sepeti kabut pagi itu", lalu disambut dengan adegan Han, sahabat kecil Gie yang meninggal ditembak di pulau Bali saat pemberantasan pengikut PKI, adegan ini menceritakan dimana Gie meninggal di Gunung Semeru. Sang penulis skenario berhasil mengkawinkan antara kalimat Gie yang menjadi narasi dengan visual yang dramatis, suasana pagi dingin di atas gunung. Mengisahkan Gie meninggal yang meninggal karena gas beracun dari Gunung Semeru dengan melankoli perasaan terasing namun bebas dan juga lelah tapi juga lega.

Satu lagi, bagaimana sutradara menggambarkan adegan sejarah tentang pemberantasan pengikut PKI yang ditembak oleh militer secara rahasia di pulau Bali. Dengan adegan Gie duduk menonton pertunjukkan wayang dengan kerut di dahi dan peluh di muka, menggambarkan kekhawatiran dan kesedihan juga rasa penasaran Gie terhadap apa yang terjadi terhadap sahabat kecilnya, mempertanyakan dan berusaha menguak apa yang disembunyikan oleh pemerintah saat itu. Adegan di film ini bolak balik ke Gie yang menonton wayang, lalu Han yang disekap di penjara,  lalu pertunjukkan wayang, lalu ditutup dengan Han tersenyum lega melihat pantai, lalu meninggal ditembak di salah satu pantai di pulau Bali. Hmm, betapa persahabatan diantara laki-laki begitu intim, kuat, dan bermakna dibanding perempuan, dengan adegan itu, menampilkan emosi Gie yang sedih teringat sahabat kecilnya, sayang jika melihat kondisi sekarang jika persahabatan karib antara laki-laki suka disalah artikan, atau jaman sudah berubah? iya (mungkin). 

Wayang, saya jadi bertanya kenapa dengan pertunjukkan wayang? Mengapa sutradara mengaitkan pertunjukkan wayang dengan kisah pemberantasan pengikut PKI?. Dengan apa yang saya tahu, pertunjukkan wayang menyimpan suatu isyarat dan terkesan misteri dan rahasia, begitu pula dengan kisah yang terjadi dengan sahabat Gie, memiliki isyarat, misteri dan rahasia dari pemerintahan yang berkuasa pada masa itu. Gie berusaha menguak cerita itu dengan menerbitkannya melalui surat kabar, dimana surat kabar tersebut menimang kembali untuk menerbitkan tulisan Gie, yang berarti (mungkin) kisah sejarah itu memang diisyaratkan untuk menjadi misteri dan rahasia. Ah, entahlah, seingat saya belajar sejarah di masa sekolah dulu, saya tidak pernah baca ini atau memang lupa atau memang tidak peduli??.

Oh, adegan ketika pemerintahan Soekarno jatuh, sangat dramatis. Dibuka dengan adegan Gie bangun tidur lalu loncat ke adegan Soekarno bangun dari tempat tidur, berjalan keluar dengan masih memakai pakaian tidur, lampu di istana satu per satu mati. Dengan suara berita dari radio menjadi narasi yang lalu berhenti dilanjutkan dengan alunan musik dramatis menandakan masa pemerintahannya telah berakhir, Soekarno habis, dan adegan Gie mandi menjadi cerita akan hari baru bagi Gie setelah perjuangannya menggulingkan pemerintahan Soekarno.

Adegan yang menyentuh bagi saya adalah saat Gie membuka percakapan dengan ayahnya. Selama di film, ayahnya tidak pernah berkata apapun dan jika tidak tahu sejarah tentang Gie, kita tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan ayah Gie, tapi adegan ini menjawab siapa dan apa sebenarnya ayah Gie. Mungkin karena terkoneksi dengan masalah pribadi, adegan ini begitu menyentuh saya, meskipun ayahnya tidak pernah berbicara tapi dengan duduk diam di meja saat Gie tertidur pulas memberikan sentuhan emosional yang kental bahwa sang ayah khawatir dan perhatian terhadap anak lelakinya dan Gie mengambil momen itu untuk berbicara kepada ayahnya. Suasana dengan lampu minim, buku catatan merah dan mesin tik, seolah berbicara dan mewakili emosi yang terjalin di antara ayah dan anak laki-lakinya.

Hmm, saya masih "wow factor" dengan film ini, sejauh ini, film "GIE" sukses menceritakan kisah hidup seorang pejuang muda tahun 60-an yang memegang peranan dalam sejarah Indonesia. Setidaknya, dengan menonton film ini menjadi sebuah mediasi lain dalam menyampaikan sejarah  Indonesia melalui kacamata seseorang yang berjuang menegakkan keadilan dan pemerintahan yang bersih di negara ini, dan ironinya sampai saat ini belum terwujud. Kalau bagi saya pribadi, film ini wajib masuk dalam koleksi film, karena, mungkin di masa depan menjadi media cerita pengingat bahwa perjuangan Gie masih terus berlanjut dan (mungkin) diharapkan akan lahir Gie-Gie yang lain, demi mewujudkan Indonesia lebih baik.

Sunday, 3 November 2013

belakang.

Belakangan ini saya banyak berpikir. Begitu banyak hal berputar di kepala. Semua pikiran berbentuk pertanyaan, ingin segera dijawab. Sebulan ini seperti hilang fokus, berusaha membawa santai dengan apa yang terjadi, menikmati apa yang bisa dinikmati selagi bisa. Entahlah, rasanya harus segera bergerak sebelum tertinggal "kereta".

So, i kind of rewarding myself with a bottle of beer and old british movie. Surprisingly its an inspiring movie. Sort of giving a new refreshing moments. Sad thing is, watching movie used to cured me, but now, somehow, it doesn't do much. Something is definitely wrong with me is it?.

This life that i am living now its suppose to be the "moment" where i finally have the "solitary" and building my own "lego", starting from zero. Well, not literally zero. Is just that i had so many experiences before i got here. What happened before was actually driven me to do something big, which is something i have always dreamed about. And yes, i got it and on progress. I never picture how i can do this. All of this, sort of "new" to me, it gives me the senses of being alive, more alive.

What i do need right now is the muse. The muse to push me from what ever stopped me of doing something.

To be honest, i really don't know what i want to write exactly. There is a big messy puzzle in my head, need to be solve in a hurry. But, i'll be fine, i'll sort all of this. I am enjoying the process. Keep rewarding myself, meanwhile my head is on loading to the line where i can finally have what i dream, want and need.


Wednesday, 30 October 2013

cin(T)a

Saya pertama kali menonton film ini di tahun 2010. Film yang diproduksi tahun 2009 ini menurut saya adalah salah satu karya film anak bangsa yang sungguh "Brilliant", kenapa?. Film ini bagaikan air dingin pelepas dahaga di tengah gurun panas perfilman Indonesia yang semakin tidak jelas arahnya, para pembuat film berlomba-lomba untuk membuat film yang nol kualitas dan hanya mementingkan popularitas dan meraup untung besar. 

Dengan mengangkat tema cerita cinta dua anak manusia berbeda keyakinan. Berjuang mempertahankan cinta, saling mempertanyakan kenapa perbedaan keyakinan menjadi sebuah penghalang untuk bersatu. Meski kesan di awal sepertinya film ini akan berakhir sama dengan film drama remaja indonesia lainnya ternyata film ini sungguh memberikan refrensi baru dan menyegarkan. 

Sang sutradara mampu mengemas sebuah masalah yang tabu dibicarakan di kalangan masyarakat karena cenderung sensitif yaitu agama dengan menarik. Dibumbui dengan masalah percintaan yang kerap kali terjadi di kehidupan nyata. Ada yang berakhir "happy ending" adapula yang tidak. Tapi di film ini ceritanya tidak terkesan murah atau pun picisan. Menurut saya justru penonton dibuat merenung dan memaknai sebuah rasa "cinta" yang sesungguhnya.

Bagi saya, sang penulis skrip memegang peranan penting dalam film ini. Pemilihan kata dan rangkaian kalimatnya sangat berkarakter dan sekali lagi, sungguh menggugah pikiran dan menjadi renungan tersendiri bagi saya (entah bagi anda..). Kalimat-kalimat sederhana namun sungguh pandai membuai dan membawa emosi penonton untuk ikut merasakan dan merenungkan apa yang dirasa oleh kedua karakter dalam film ini. Sepertinya penulis skrip ingin membawa pesan bahwa cinta tidak hanya sebatas  pada dua orang manusia yang saling terpana pada pandangan mata,  sentuhan fisik, melewati waktu bersama dan timbul emosi di antara keduanya. Rasa cinta yang ingin disampaikan di dalam film ini maknanya luas, bahkan menurut saya tidak terhingga. Seolah ingin menyampaikan bahwa dua orang manusia hanyalah sebuah medium transformasi untuk manusia menemukan cinta yang sesungguhnya. Cinta pada diri sendiri, cinta pada keluarga, cinta antar manusia dan yang tertinggi cinta pada Tuhan. 

Pemilihan pemain baru di film ini pun sungguh sebuah langkah yang sangat penting karena terlalu banyak aktor ataupun aktris di indonesia yang hanya mengandalkan tampang tapi kualitas aktingnya sungguh mengecewakan. Meskipun tampang kedua pemain di film ini memang masuk dalam kategori menarik tapi ditunjang dengan kualitas aktingnya, rasanya patut untuk diacungkan jempol. Arahan sutradara berhasil mengeluarkan karakter pemain. 

Annisaa, seorang perempuan jawa beragama islam. Karakter yang ditampilkan adalah seorang perempuan berparas cantik, lemah lembut tetapi selalu sendu. Diselimut dengan pergulatan emosi karena tekanan masalah di keluarga, sosial dan tugas akhir kuliahnya. Cina, seorang laki-laki keturunan tiong hoa beragama kristen. Karakternya yang cerdas, optimis, riang namun memendam segudang emosi dan amarah karena darah cina dalam tubuhnya tidak berpeluang besar di negaranya sendiri. 

Cerita cinta di antara kedua karakter ini hanyalah sebuah pemanis namun banyak sentilan-sentilan pada kehidupan nyata yang terjadi di Indonesia. Agama, budaya, politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Meskipun tidak digambarkan secara gamblang tetapi nyatanya banyak mencubit rasa dan pemikiran saya sebagai penonton (entah bagi anda...).

Selain itu pemilihan angle kamera yang cenderung di dominasi dengan ekstrim "close up" ke setiap objek di film ini juga bagi saya sungguh, sekali lagi, "brilliant". Dengan "treatment" kamera ini emosi yang ditampilkan rasanya begitu dekat dan ya sekali lagi, sungguh berani dan menyegarkan.

Musik. Nah, ini juga memegang peranan penting dalam memainkan emosi penonton, bagi saya sungguh musiknya "kawin" sekali. Penempatan musik pada setiap bagian filmnya bagian paling esensial, bagi saya. Hampir di setiap bagian film ini ditunjang dengan musik yang "kawin" memberikan ambiance yang bermakna dalam. Baik dari segi lirik dan musiknya sendiri. Semua tim yang terlibat dalam pembuatan film ini bagi saya sangat cerdas dalam menjahit setiap elemen yang ada di film ini. Membuat semua saling berkaitan satu sama lain dan seandainya salah satu pincang akan memberikan warna yang berbeda dan pesan yang ingin disampaikan belum tentu sampai. 

Permainan gambar di jari tangan di kedua karakter juga menurut saya adalah salah satu bentuk komunikasi penyampaian pesan yang menarik. Gambar bentuk emosi sedih dan bahagia sungguh menggambarkan emosi yang sedang terjadi pada saat itu. Well, gambar menggambarkan seribu bahasa bukan.

Yah, saya sangat mengapresiasi para tim dalam film ini. Mereka sungguh cerdas dan memberi hawa segar dalam dunia film indonesia. Sungguh kalian tim yang kawinnya luar biasa. Standing applauses!!!.


*(ceritanya) lagi belajar nulis review film. susah ya ternyata. ga sanggup bahasa tinggi. haha. segini dulu cukup. :). Salford, Manchester, Rabu, 30 Oktober 2013.

Saturday, 12 October 2013

Here I am.


Rabu sore, Pukul 5 sore waktu Salford, Manchester.

Setiap hari rabu sesi kuliah dimulai pukul 10 pagi. Ini minggu kedua saya di kota Salford, Manchester, masih adaptasi dengan lingkungan sekitar dan tentunya kehidupan baru disini. Semua seperti dimulai dari titik nol. Tidak seperti dua minggu sebelumnya, dimana hari saya disibukkan dengan kegiatan di kantor dan segala macam urusan peliputan yang masih "on progress".

Saya masih merasakan "jet lag" setelah naik pesawat selama 14 jam lamanya. Wuih, rasanya sudah lama sekali tidak berpergian dengan pesawat terbang dengan waktu penerbangan yang lebih dari 3 jam lamanya. Badan rasanya letih dan minta untuk diistirahatkan tapi kota ini terlalu menarik untuk dilewatkan, selain itu juga berbagai macam administrasi dan kegiatan selama minggu pertama kuliah tidak bisa saya lewatkan. Mulai dari lapor diri ke kampus, buka rekening bank lokal, bikin kartu mahasiswa, bongkar koper, menata kamar dan lain-lain. Rasanya ingin segera selesai sehingga bisa duduk tenang dan istirahat sejenak di dalam kamar sambil menghangatkan diri, karena masih belum terbiasa dengan udara dan angin yang super dingin, tapi akhirnya semua bisa diselesaikan secara bertahap, hanya saja butuh kesabaran, ketenangan dan tenaga ekstra untuk menyelesaikan semuanya.

Akhirnya di minggu kedua inilah saya bisa sedikit bernafas lega, meskipun kuliah sudah dimulai. Seperti tidak ada titik dalam sebuah kalimat. Tak mengapa, toh, saya begitu antusias dengan segala petualangan baru di kota ini. Seperti punya mainan "puzzle" baru. Well, destiny here i am.

...............

Hari rabu siang, sesampainya di flat saya merasa sangat letih dan kantuk yang tidak tertahankan, setelah melewati sesi kelas pagi dan berjalan kaki menuju pulang. Jarak kampus dan flat  sebenarnya hanya membutuhkan 15 menit berjalan kaki, kalau naik kendaraan tentunya hanya kurang dari 3 menit. Sampai kamar saya langsung melepas sepatu dan mantel dingin lalu meregangkan pinggang sambil merebahkan badan di kasur, tidak lama dari itu saya tertidur dengan telepon genggam masih di tangan.

Dua puluh menit kemudian saya terbangun karena getaran telepon genggam, ibu baru saja mengirim pesan singkat menanyakan kabar hari ini dan bagaimana suasana kuliah minggu kedua. Ah, Ibu, rindu.

Beberapa menit kemudian pesan singkat lainnya masuk, saya masih setengah sadar dengan kedua mata yang berat dan lengket untuk dibuka, pesan singkat lainnya masuk dengan nomor telepon lokal.

Hmm, saya ragu dan bingung seketika. Hanya kedua teman flat saja yang tahu nomor telepon lokal saya disini selebihnya tidak ada, tapi mengapa pesan singkat ini tahu nomor dan nama saya. Aneh. Sambil setengah sadar saya membaca dan membalas pesan singkatnya.



"Halloooo…ini Dina dari Indonesia?" kata dia.

"Hallo. Yes its me. I'm sorry who is this?" kata saya.

"Ini Aldi, teman kelasnya Nhu Loan yang dari Vietnam, katanya dia punya teman dari Indonesia di Bramall Court" kata Aldi.

"Ooh hi, Aldi (sambil memberi gambar emosi senyum). Iyaa, btw kok kamu bisa bahasa indonesia?. Ah senangnya ada orang Indonesia." kata saya.

"Iya bisa bahasa Indonesia baru belajar nih.. hehe. Ngapain malam ini?" kata Aldi.

(Masih keadaan tidak sadar dan belum nyambung) "Loh, jadi kamu orang Indonesia apa Vietnam? Indonesia kah? Cuma di flat aja sepertinya. Kenapa?" kata saya.

"Ada acara di student life, Musician Society"kata Aldi.

"Oiya? Belum pernah ke student life nih. Baru sampe hari kamis kemarin. Hehe" kata saya.

"Kebetulan temenku main gitar disana, kali aja mau datang its free." kata Aldi"

"Boleh jam berapa?" kata saya.

"Jam 8 mulai." kata Aldi.

"Kamu tinggal dimana?" kata saya.

"Ngobrolnya sekalian disana aja. Ya udah nanti aku jemput, kan ada free bus" kata Aldi.

"Ok boleh, mau jam berapa kesini?." kata saya.

"Jam 7an mungkin ya." kata Aldi.

"Ok, kabarin aja ya." kata saya.

Ok, saya masih setengah sadar, sungguh letih dan mengantuk, masih belum nyambung dan masih juga bertanya apakah dia orang indonesia atau vietnam. Saya simpan nomor teleponnya, dan kemudian saya bangun, segera sadarkan diri. Sesaat setelah benar-benar sadar saya mencoba lihat profil Aldi di dalam sebuah aplikasi pesan singkat. Hmm, tampangnya lumayan, ha..ha..ha. Ok, tapi foto bisa saja menipu ya (dalam hati saya bergumam), kita lihat aslinya.

Ada yang lucu dan perasaan seperti diajak kencan pertama kali. Ini lucu. Apa karena saya sudah lama tidak merasakan hal ini ya?!. Entahlah. Saya putuskan untuk mandi biar segar dan setelah berpakaian saya memutuskan untuk memakai "eye liner" agar terkesan tidak terlalu cuek banget jadi perempuan. Sambil menunggu kabar, saya asik "browsing" internet sambil bertukar pesan singkat dengan teman saya di Indonesia.

"hi, saya sudah di Bramall Court nih." 

"oh, hi. ok, sebentar yah. udah lama?" kata saya sambil tidak enak hati.

"lumayan, saya di depan gerbang ya."

"ok, tunggu 5 menit ya".

Dan inilah momen yang mendebarkan. Tidak maksud melebih-lebihkan tapi ini mungkin yang dinamakan kopi darat, bukan dalam arti yang sebenarnya. Saya meyakinkan bahwa ini sebuah ajang sosialisasi dan kekeluargaan sesama warga indonesia yang sedang berada di luar negeri. Ada sebuah rasa atau sensasi kesenangan bisa kenal dengan sesama orang indonesia dan bisa berbagi waktu bersama dan tentunya berbicara dengan bahasa indonesia. Ah, lega.

Ground floor.. (kata suara perempuan elektronik dalam lift).

Saya jalan menuju pintu flat dan udara dingin langsung menyambut saya. Anginnya kencang dan dingin sekali, ingin balik saja rasanya ke kamar. Dari jauh saya melihat Aldi berdiri di balik pagar dengan sedikit terhalang oleh tembok batu bata pagar flat. Hmm, ternyata Aldi orangnya tinggi, mungkin tingginya sekitar 170cm.

"hi, Aldi ya" kata saya.

"hi, Dina"

"iya, brrr.. dingin banget. ok, kita jalan sekarang? hmm, ga telat kan?"

"ga kok. hmm, mau jalan kaki atau naik taksi?" kata Aldi.

"hmm, jalan ok aja, kalau naik taksi memangnya lokasi jauh?"

"ga jauh sih sebenernya, tau perpustakaan ga?"

"iya tau, trus?"

"nah, tinggal jalan sedikit lagi ada gedung di sebelah kanan, nah disitu deh student life, acaranya di Bar Yours".

"ooh, ya udah terserah kamu aja. saya jalan ok, naik taksi juga ok."

"kalo gitu, naik taksi aja gpp ga? dingin kan?"

"ok, gpp. iya nih."

"saya telepon dulu ya"

Aldi sibuk dengan telepon genggamnya dan dari pelipis mata saya mulai mengamati Aldi sembunyi-sembunyi. Ya, dia tinggi untuk laki-laki indonesia. Malam itu dia memakai celana jeans hitam dengan sepatu converse hitam klasik, dia memakai kacamata dengan frame ala band Weezer, Graham Coxon. Dia memakai jaket beludru warna hitam yang jatuh pas di badannya, tidak terlalu besar dan tidak juga kekecilan, di dalamnya dia memakai kemeja flanel kotak-kotak berwarna merah, rambutnya dipotong cepak, kulitnya cokelat sawo matang, tutur bahasanya sopan. Hmm, penampilannya ternyata boleh juga, he..he..he.

Kami-pun tiba di kampus, karena taksi hanya bisa sampai di lobby gedung utama kampus maka kami harus jalan sedikit menuju ke lokasi Bar Yours. Ini adalah pertama kalinya bagi saya jalan kaki malam hari di dalam kampus. Suasana malam itu sepi, tidak ada orang, hening, hanya suara angin dan udara dingin yang cukup menusuk kulit. Lampu remang dan temaram dari gedung tua kampus dan lampu jalanan menemani perjalanan kami, sambil melewati pinggir taman kampus.

"kalau winter biasanya disini orang banyak main skateboarding loh. british sometime can do crazy things. which when you see its impossible, to them is possible" kata Aldi.

"yes, i can see that. kamu juga ikutan lagi?" kata saya antusias.

(tertawa) "aku ga bisa main itu, aku cuma main salju aja. Jadi udah mulai terbiasa dengan udara di Inggris?" kata Aldi.

"hmm, masih adaptasi sih tapi bisalah cuma ga tau kalau pas winter yah"

"tapi beberapa hari ini udaranya lagi bagus, mataharinya lagi panas cuma ya anginnya kayak gini, dingin, kalau pas winter rasanya males kemana-mana, enaknya di kamar, browsing, streaming, makan indomie deh" kata Aldi tertawa.

"emang kamu udah berapa lama disini? udah mau selesai ya?" kata saya penasaran.

"aku dari tahun lalu tapi belum mau selesai kok" katanya sambil menenangkan.

"berarti mau dua tahun? betah?"

"iya, ya betah-betah aja sih" katanya tertawa.

"hmm, iyalah betah, disini enak coba kalau udaranya ga sedingin ini"

"hmm, kalau kamu liat ke kiri sebelah sana, itu mesjid kampus. Saya kalau sholat disana. tapi jangan anggap kayak mesjid gimana ya, cuma bangunan kotak gitu warna putih, bisa liat ga?"

"yang mana? ooh yang itu. hmm, aku baru tau kalau ada mesjidnya. Baguslah, jadi ga susah kalau mau ibadah".

"aku sering sholat isya berjamaah disana, enak kok."

"tapi pasti banyakkan cowok nya kan?" kata saya menjustifikasi..

"hmm, iya sih" kata Aldi tertawa.

"masih jauh ga?"

"kenapa? kedinginan ya?"

"lumayan beku tangan" kata saya tertawa menghibur diri.

"dikit lagi kok, tuh gedung putih yang terang, keliatan kan?"

"ooh, ok. baiklah"

Dan dalam perjalanan kami malam itu, ditemani dengan suara hembusan angin pepohonan kampus, kami-pun melihat tupai yang sedang asik dengan makanannya sambil jalan beriringan dengan kami. Sungguh menyenangkan akhirnya bisa berkomunikasi dengan bahasa indonesia. It really is nice, destiny, here i am, giving all my days.

-Bersambung-

*Salford, Minggu, 13 Oktober 2013, musik oleh Katja & Piering - Destiny (Versi asli oleh Homogenic), nama asli dari tokoh disamarkan, demi privasi (tsah, gaya deh gw).

Monday, 7 October 2013

Seminggu. #latepost

Seminggu ini banyak cerita. Kejadian yang dialami lebih banyak membuat kepala keriting dan bingung mana yang harus didahulukan. Karena prioritasnya sama-sama penting.

Merasa bahwa tidak ada kemajuan sama sekali. Hanya diam di tempat, sedangkan waktu berjalan terus. Alamak!. Kepala rasanya enak kalau dijeduk ke tembok, sesekali biar terasa sedikit lebih ringan. 

Tapi, di satu sisi lain, ada kejadian tidak terduga. Mengejutkan dan jujur menyenangkan. 

I was so suprised with the situation. Somehow, it feels like it was all connected to each other. I never expected that it will happened, you know?!. What i mean is that, something is beyond your reach, so suddenly come to you. 

How do you reacted to that kind of situation?. I honestly was so thrill and yet i am calming myself down. Alarm myself not too much excited and expecting. 


Continue later. 

mulai lagi (starting again)





Ah!. Saya tidak akan mengulas musik dari East & Young. Pertama kali saya dengar musik dua orang ini rasanya seperti melayang, apalagi ditambah dengan suasana dan tempat baru dimana saya akan mulai petualangan baru selama setahun ke depan (hmm, berharap bisa lebih dari satu tahun). Musiknya begitu hidup ketika dengar di "Social Room" tempat saya tinggal sekarang.

Duh!. Kenapa jadi mampet untuk nulis sesuatu yah?!. Hmm, baiklah. Begini, lagu ini menjadi salah satu lagu penyemangat saya ketika kedua kalinya menginjak tanah Ratu Elizabeth II. Lirik dari lagu ini terkesan dalam namun dikemas begitu ringan. Selain itu lagu dari salah satu DJ, Armin Van Buuren - This is what it feels like. Ah!. Lagu dan liriknya, lagi-lagi bagi saya begitu dalam namun dikemas dengan ringan dan nada ceria (menurut saya).

Jadi, kaitan kedua lagu dengan kehidupan saya sekarang ini adalah yah, saya akan memulainya lagi semua dari awal dan ternyata rasanya seperti ini. Tidak ada beban, tidak ada rasa sedih. Namun jika dilihat ke belakang akan sedikit memberi rasa perih sementara dan sakit ketika tahu keadaan yang ada sekarang tentang dia. Nah, si dia ini. Ya, dia. Si pria yang pernah hadir singkat dalam hidup saya selama dua tahun kemarin. Saya sempat berpikir bahwa dia akan menjadi yang terakhir tapi ternyata tidak, dan ya, lagi-lagi berakhir dengan kondisi yang tidak enak.

Sudahlah, rasanya tidak ada keinginan untuk membahasnya kali ini. Mungkin nanti. Saya masih punya hutang sama kamu, bahwa saya akan mulai mencoba menceritakan apa yang sedang saya alami sekarang ini dan mungkin beberapa ide untuk proyek film dokumenter sebagai tugas selama kuliah berlangsung. 

Monday, 12 August 2013

Kalut.

12 Agustus 2013.

(Menghela nafas). Tahun 2013 sudah di ujung. Waktu berlalu sangat cepat. Kalau ditengok ke belakang, tidak menyangka saya sedang berada di titik ini. Memang hal dan kalimat klise kini terbukti bahwa semuanya akan tetap berjalan seperti apa adanya dan waktu, ini dia, waktu yang menjadi raja dari segala hal yang terjadi dalam hidup yang penuh misteri dan kejutan. 

Kini, saya menikmati waktu. Entah itu berjalan pelan ataupun cepat. Saya sendiri tidak pernah mengira akan ada di titik ini sekarang. 

Ok. Jujur, jelang hari raya ada rasa perih dan pilu di hati. Di hari raya pun, rasa itu masih menyayat dan sakit. Selepas hari raya, rasa sakit itu kian kebal meski beberapa saat masih sedikit terasa. 

Entahlah, rasa perih dan pilu menjadi sebuah kekalutan yang sulit untuk saya uraikan. Menahan diri untuk tidak menyuarakan, baik kepada orang maupun di media sosial. Memendam rasa dan pikiran menjadi kegiatan baru dan rutin saya lakukan saat ini. Ada sensasi tersendiri yang lucunya meski tak tahan tapi menghibur. Uhmm, betapa luar biasanya Tuhan, menciptakan saraf, otak, dan akal pada manusia. 

Bukan bermain dengan pikiran tapi lebih kepada memandang sebuah peristiwa atau masalah itu langsung kepada hukum sebab-akibat dan juga menunggu waktu. Sabar. Ya, sabar sebuah kunci mati bagi pencarian sebuah jawaban. 

Mungkin saya yang terlalu sensitif. Masih bermimpi akan sebuah hubungan harmonis dan komunikasi dua arah di dalam keluarga. Bagi saya, sungguh ironi, jika saya mampu berkomunikasi dengan baik pada orang lain, tapi kenapa dengan orang tua sendiri sepertinya komunikasi itu bagaikan benang kusut dan sukar sekali diurai. Beberapa waktu, saya sempat mencoba menjalin komunikasi dengan Ibu. Berjalan cukup baik, menjadi sebuah kelegaan dan kenyamanan yang saya rasa dalam beberapa bulan. Tetapi, kemarin malam, saya kembali tersandung. Urusan sepele tapi menjadi cipratan emosi yang berujung dengan argumentasi tanpa solusi, tentu hal ini tidak ditunjang dengan komunikasi yang baik. Seperti, kami berdua telah memiliki benteng masing-masing dan ingin saling melindungi agar benteng itu tidak runtuh hingga kami tak perlu merasa sakit ataupun kalah. Yah, intinya kami saling mengadu siapa yang paling kuat. Ah, bodohnya. Saya ini kan anak, baiknya mengalah dan mendengar orang tua. Akhirnya argumentasi kami dari satu masalah menjalar dan melebar hingga tidak ketemu titiknya. 

Argumentasi disudahi dengan Ibu memilih masuk ke dalam kamar dan tidak keluar lagi. Dengan berat langkah, saya putuskan naik tangga menuju kamar. Ada rasa menyesal, tapi saya pun masih memiliki ego yang ingin saya pertahankan. Tapi, apalah arti sebuah ego, jika saya telah melukai hati Ibu dan mencoreng komunikasi yang telah terjalin cukup baik beberapa bulan ini. Kini, saya mulai membangun bata komunikasi yang sempat pecah dan rubuh beberapa. (Menghela nafas). Ibu, maafkan saya. 

Kabar baru datang dari konsultan pendidikan saya, kabar mengenai permintaan pembaharuan surat refrensi bank yang umurnya akan lebih dari 28 hari saat tanggal 22 Agustus nanti pemeriksaan keaslian dokumen untuk mengajukam visa ke Inggris. Dalam hati, ya Tuhan, bagaimana cara saya bicara dengan Ayah saya. Dia pasti akan berpikir ini merepotkan, bagi dia ini harusnya mudah dan sederhana. Bayangan Ayah seperti 15 tahun yang lalu, sewaktu dia akan berangkat ke Inggris. Tapi, setelah melewati pergolakan politik dalam negeri, krisis moneter Asia, perang Afghanistan hingga kudeta pemerintahan di Irak, krisis Eropa, kebijakan-kebijakan baru dalam urusan perbatasan antar negara beda benua, hingga krisis ekonomi dunia. 

Kini, segala sesuatu halnya menjadi lebih ketat. Tiap negara berusaha menjamin keamanan negaranya agar tidak ada orang yang terlantar, karena sejujurnya mereka secara lugas menyatakan tidak mau menampung orang-orang tersebut. Di kantor, saya beranikan diri untuk menghubungi Ayah yang sedang ada di rumah. Ketika bicara dan menjelaskan, Ayah sudah mulai menghela nafas dengan nada kesal dan keluar lah kalimat  "repot banget sih" dan tak ketinggalan kata "ah" dengan nada kesal. Jantung saya langsung berdebar tak karuan, sinkronisasi dan oksigen tidak teratur mengalir dalam tubuh saya. Susah sekali untuk berkonsentrasi. Saya menanggapi dengan baik dan mengalah. Kemudian 1 jam setelah telepon saya tutup, saya beranikan untuk mengetik pesan singkat ke Ayah. Saya tidak perlu berbasa-basi. Kalimat saya langsung dan formal. Bukan karena gengsi atau apapun itu, tapi ini mungkin gaya komunikasi saya dengan Ayah. 

Tapi, itu rasa kesandung itu yang seringkali membuat saya takut, jantung berdegup tak karuan, inginnya saya mengumpat dan ketika saya keluar masalah itu sudah selesai. Namun, bodoh sekali saya berpikir begitu, 27 tahun umur saya, baiknya harus mampu mengatasi  ketakutan, ini adalah kendala yang harus dihadapi. Saya lewati dengan baik meski belum tahu bagaimana hasil akhirnya. 

Saya bertemu kamu. Kita bersalaman. Setelah sekian lama tak bersentuhan. Masih ada canggung diantara kita. Masih ada tembok yang membatasi. Tergelitik saya ingin mengetik pesan singkat ke kamu, tapi saya urungkan niat itu. Karena  akan menjadi "drama" tidak penting yang bahkan terbesit saya dalam pikiranmu juga tidak. (Mungkin) saya berprasangka buruk terhadap kamu, tapi ini mungkim cara paling efektif saat ini bagi saya daripada merusak apa yang ada sekarang. Biarlah begini adanya, saya harus berhenti mencari dan menganalisa. Cukup. Baik-baik ya kamu. Saya memang rindu dan (masih) sayang kamu. 

Setiba di rumah, pukul sebelas malam. Saya mengaku letih kepada salah seorang teman yang dalam perjalanan pulang tadi saya memang sedang berkomunikasi lewat pesan singkat. Entah, saya kalut. Pekerjaan saya menuntut banyak untuk diselesaikan, saya sangat tertantang tapi mengapa sulit sekali fokus. Ada apa dengan say belakangan ini?. Tidak lagi saya hiraukan atau tenggelam dalam kegelisahan masalah hubungan yang sudah lalu. Tapi ada sepi. Sepi yang sebenarnya saya juga tidak mencari keramaian untuk mengatasi sepi itu. Saya hanya khawatir akan mengecewakan orang. Sungguh khawatir, karena saya tak sampai hati ingin mengecewakan orang (lagi). Meski begitu, saya harus jujur bahwa saya letih. Ini sementara karena raga sedang tidak dalam kondisi prima. Ingin santai sejenak. Egoiskah?. 

Saya sudah terlalu banyak memenangkan rasa egois dalam hidup saya sehari-hari. Kini, waktunya saya berkompromi. Percaya bahwa nanti waktu akan menjawab dan memberikan anak waktunya untuk saya bersantai sejenak. 

Sungguh abstrak dan kalut tulisan saya ini. Bagaikan bajing loncat tak tentu arah. Saya tutup hari dengan menunaikan kewajiban sebagai muslim. Dengan mengakat kedua tangan, menutup mata, saya membayangi-Mu. Menutup hari dengan doa dan berkeluh kesah dengan-Mu adalah hal yang saya tunggu dan rasa lapang di dada dan tenang. 

Perasaan tenang itulah yang membuat saya yakin. Bahwa, pada akhirnya semua akan baik atas ridho-Mu. Dan sebelum menutup mata untuk beristirahat sejenak menanti datangnya pagi, saya ingin menulis. Agar tulisan ini menjadi pengingat saya di kemudian hari. Bahwa segala sesuatu akan menjadi memori dan akal dan keterpilan merangkai kata menjadi tanda bukti sejarah diri. 


Selamat istirahat. Selamat malam. Semoga "kalut" ini akan terlerai bersama datangnya embun di waktu subuh. Amin. 

-Bekasi, wangi Bergamot.-