di sela-sela jam makan siang, di hari jumat. mengintip hasil unduhan laptop teman saya. film Cin(T)a. film itu, selalu sukses membuat saya rindu yang sangat dalam dengan kota bandung, belum lagi lagu-lagu yang mengiringi.
daerah di sekitar kota bandung, tempat-tempat yang dulu pernah saya singgahi, tempat yang kini telah menjadi kepingan memori yang ada di otak saya. entah mengapa, film tersebut disertai dengan lagu-lagu yang mengiringinya, telah menjadi "trademark" tersendiri, selalu sukses membawa rasa pilu, dan nyeri di dada kiri saya.
ini memang, hanya momen pribadi saya. ya, sangat subjektif memang. belum tentu, anda juga mengalami hal yang sama. namun, kota bandung, menyimpan banyak kenangan dalam hidup saya. satu setengah tahun terasa seperti bertahun-tahun.
empat tahun saya habiskan waktu saya di jatinangor. kota itu juga menyimpan kenangan tersendiri, namun kesan mendalam tidak seperti yang saya rasakan ketika mengingat kota bandung.
ada kesulitan yang saya rasakan ketika ingin mengungkapkan rasa dan ingatan tentang bandung, film cin(T)a, dan lagu-lagu Homogenic seperti : destiny, am i, is it love, kekal, mindless, faithful dreams.
saya hanya bisa menghela nafas, dan membiarkan pikiran saya melayang-layang ke dalam ingatan saya tentang bandung. membiarkan pintu-pintu kenangan mengenai bandung terbuka kembali. sedikit membiarkan rasa pilu, nyeri, rindu, dan sedih bertandang sementara waktu di kala waktu istirahat makan siang saya.
saya rindu masa-masa dimana saya tidak terikat dengan aturan. rindu masa-masa tanggung jawab yang hanya dalam itungan satu kepalan tangan saja. tidak seperti sekarang.
buk...buk...buk...buk..
dan saya kembali ke dunia nyata...
selamat makan siang dan kembali beraktifitas...
Thursday, 7 April 2011
catatan dari sahabat untuk sahabat
Sahabat, janganlah kamu bersedih. Ketika sakit itu ada di hatimu, biarlah mengalir, karena pada akhirnya, sakit itu akan berhenti dan menemukan pintu keluarnya.
Menangislah jika kamu ingin menangis, jika memang itu mampu mengatasi rasa sakitmu, setidaknya membuat perasaan lega di dalam dada.
Aku, mungkin tidak akan pernah selalu ada di samping kamu, ketika kamu membutuhkan aku, tapi aku akan selalu ada disini, tidak akan kemana-mana. Dan rasa sakit yang kamu rasa, aku juga ikut merasakan sakitnya.
Aku berharap dan berdoa, semoga kamu diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran dalam mengatasi rintangan yang kamu hadapi saat ini. Percaya bahwa Tuhan sedang menguji keimanan kamu, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, amin Ya Allah.
Sahabat, jangan sampai cinta mengalahkan logika, menghancurkan harga diri, hingga kehilangan jati diri kita. Kasih sayang tidak harus selalu berakhir bersama. Pikirkan sepuluh langkah di depan kita, bukan satu atau dua langkah. Karena resiko, konsekuensi akan datang nanti, dan kita semua berharap penyesalan tidak datang di kemudia hari, berharap bahwa kita ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Mundur selangkah bukan berarti kita kalah dalam peperangan, tapi justru kita memikirkan langkah apa yang akan kita dapati dan akan kita hadapi di sepuluh langkah lebih kedepan nanti. Akan sakit memang,lebih sakit, tetapi waktu yang akan memberi semua jawaban. If it meant to be yours, then it yours my dear.
Bukan salah kita, juga bukan salah orang tua kita. Dengan hadirnya status sosial yang melabelkan asal seseorang. Dan tidak menjadi sebuah tolok ukur dari kualitas kita sebagai seorang individu.
Sahabat, kuatkan kakimu, tanganmu, tubuhmu, langkahmu, pertajam mata dan telingamu, dan jernihkan selalu pikiranmu dan terus berdoa dan beribadah. Karena itu, amunisi yang sangat ampuh dalam mengatasi rintangan perang yang sedang kamu hadapi.
Kamu tidak sendiri, kamu sudah tahu jawabannya apa.
Menangislah jika kamu ingin menangis, jika memang itu mampu mengatasi rasa sakitmu, setidaknya membuat perasaan lega di dalam dada.
Aku, mungkin tidak akan pernah selalu ada di samping kamu, ketika kamu membutuhkan aku, tapi aku akan selalu ada disini, tidak akan kemana-mana. Dan rasa sakit yang kamu rasa, aku juga ikut merasakan sakitnya.
Aku berharap dan berdoa, semoga kamu diberi kekuatan, ketabahan, kesabaran dalam mengatasi rintangan yang kamu hadapi saat ini. Percaya bahwa Tuhan sedang menguji keimanan kamu, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, amin Ya Allah.
Sahabat, jangan sampai cinta mengalahkan logika, menghancurkan harga diri, hingga kehilangan jati diri kita. Kasih sayang tidak harus selalu berakhir bersama. Pikirkan sepuluh langkah di depan kita, bukan satu atau dua langkah. Karena resiko, konsekuensi akan datang nanti, dan kita semua berharap penyesalan tidak datang di kemudia hari, berharap bahwa kita ingin memiliki kehidupan yang lebih baik.
Mundur selangkah bukan berarti kita kalah dalam peperangan, tapi justru kita memikirkan langkah apa yang akan kita dapati dan akan kita hadapi di sepuluh langkah lebih kedepan nanti. Akan sakit memang,lebih sakit, tetapi waktu yang akan memberi semua jawaban. If it meant to be yours, then it yours my dear.
Bukan salah kita, juga bukan salah orang tua kita. Dengan hadirnya status sosial yang melabelkan asal seseorang. Dan tidak menjadi sebuah tolok ukur dari kualitas kita sebagai seorang individu.
Sahabat, kuatkan kakimu, tanganmu, tubuhmu, langkahmu, pertajam mata dan telingamu, dan jernihkan selalu pikiranmu dan terus berdoa dan beribadah. Karena itu, amunisi yang sangat ampuh dalam mengatasi rintangan perang yang sedang kamu hadapi.
Kamu tidak sendiri, kamu sudah tahu jawabannya apa.
Thursday, 31 March 2011
this is how i start today..
i woke up around seven in the morning, or if i get lucky or not too tired because of last night working late, i’ll be awake around six in the morning. then i snooze my alarm into five to ten minutes. get up, and shower.
everything seem in a hurry. shower done, contacts done, make up done, hair do done all stuff are packed to go to the office. if i get an extra time, i’ll burn my first cigarette in the morning, inhale and exhale, very relaxing.
nothing much or less differences in each day, everyday are the same. this is how i got stuck on routines.
“suck it up pet”…
nothing you can do about it…
everything seem in a hurry. shower done, contacts done, make up done, hair do done all stuff are packed to go to the office. if i get an extra time, i’ll burn my first cigarette in the morning, inhale and exhale, very relaxing.
nothing much or less differences in each day, everyday are the same. this is how i got stuck on routines.
“suck it up pet”…
nothing you can do about it…
yang tidak terbendung curahan tengah malam
ME.NI.KAH
01.00, dini hari
31 januari 2011
baru saja dapat email dari salah satu sahabat saya yang tinggal di bandung. rencananya akan saya baca besok pagi, tapi rasa penasaran dan ingin tahu saya cukup tinggi, dengan masalah yang saat ini sedang dia hadapi.
singkat cerita, sahabat saya berencana untuk lamaran tahun ini dengan pacarnya yang saat ini berdomisili di balikpapan. karena pekerjaan pacarnya dinas disana. hubungan mereka sudah cukup lama, seingat saya sudah hampir menginjak tiga tahun (kalau tidak salah). akhirnya mereka memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, menikah.
dalam email, kabar terakhir, komunikasi mereka tentang rencana pernikahan cukup lancar dan mereka sepakat bulan april akan melangsungkan lamaran dan bulan mei tahun depan akan melangsungkan pernikahan.
Kabar mengagetkan datang dari calon ibu mertua. Hubungan sahabat saya dengan calon ibu mertuanya cukup baik, tapi entah kenapa, tiba-tiba sang calon ibu mertua, melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh sahabat saya. Menurut saya, sangat tidak pantas, kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang ibu. Apa dia tidak berpikir, kalau seandainya posisinya terbalik.
Tingkat pendidikan seseorang tidak menjadi tolak ukur kesopanan bagi seorang individu. Bagi saya, tingkat pendidikan tidak cukup akurat untuk dapat mengukur kesopanan dalam berprilaku dan bertutur kata dari seseorang. Status sosial inilah yang membuat segalanya berantakan, ditambah lagi dengan latar belakang keluarga.
Memang apa salahnya kalau orang tua kita sudah berstatus janda atau duda????? Janda bercerai?? Duda bercerai???. Apa letak masalahnya??? Apakah kita, sebagai anak juga ikut berstatus “janda atau duda” ??. lantas apa kita menjadi anak yang hina yang lahir dari orang tua yang berstatus “janda atau duda”.
Orang itu pada dasarnya sok tahu!!!!!!!. Belum bertanya, sejarah di balik cerita status “janda atau duda”. Apa iya keluarga yang utuh, menjanjikan produksi anak-anak yang berkualitas????.
Jujur saja, saya marah, saya emosi. Sopan sekali seorang calon ibu mertua bicara dengan kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulutnya ke calon menantunya. Dia memang bukan seorang anak yang lahir dari rahimnya, tapi apakah pantas dia mendapat perlakuan seperti itu?? apa karena dia lahir dari seorang ibu yang berstatus janda?? Apa pantas dia diperlakukan seperti itu??. Otaknya dimana sih??.
“klo kamu sudah nikah, kamu harus kerja, biar bisa kasih uang ke ibu kamu. jadi uang mas ngga kamu ganggu”
GILA!!!!!!.....seandainya kata-kata itu keluar dari mulut calon ibu mertua saya, lebih baik saya mundur jadi calon menantunya. Bisa-bisa sampai akhir hayat saya, tidak akan pernah akur. Daripada menambah dosa saya, lebih baik saya mundur. Silahkan ibu, cari calon menantu yang pantas bagi putra ibu.
Sekali lagi, karena cinta dan kasih sayang, mampu mengalahkan kata-kata dan sikap itu. DAMN!!!!! Dunia tidak adil, Ya Tuhan, apa maksud di balik itu semua???.
Apakah sebuah pernikahan yang Engkau katakan dalam kitab suci adalah sebagian dari ibadah itu malah menjadi masalah baru, yang mampu menimbulkan penyakit hati dari mertua ke menantu??. Katanya dapat menjalin dan menyatukan silahturahmi, tapi kenapa yang ada seperti itu??
Iman seorang memang terus diuji sampai akhir hayat, tapi sungguh, ketika saya membaca email sahabat saya. Kejadian itu bagaikan saya yang mengalaminya, betapa sakit hati saya membaca kejadian yang sahabat saya alami.
Jadi teringat setahun yang lalu. Seandainya saja, saya masih berhubungan dengan pacar saya yang sudah tujuh tahun lamanya saya berhubungan. Mungkin saja, ketika saya dan dia berencana akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, saya akan mengalami hal yang sama. Astagfirullah. Bersyukur saya telah mengakhiri hubungan, kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana sakit hatinya saya.
Manusia suka lupa, siapa dia!. Dia bukan Tuhan, yang bisa mengkategorikan orang seenak jidatnya. Menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk bersanding dengan hasil keturunannya.
Insyallah, orang tua saya, dan orang tua sahabat saya tidak seperti itu. Insyallah selalu diberikan keimanan yang lebih baik, dan mampu bersopan santun dalam bersikap dan bertutur kata.
Jujur saja, saya juga semakin takut membayangkan proses menuju jenjang pernikahan. Kenapa hal yang seharusnya mudah, -dalam artian akan selalu ada jalan keluarnya- selalu dibuat rumit?. Saya tidak mampu membayangi ketika berada di posisi dalam proses menuju pernikahan saya nanti. Insyallah, diberi umur panjang dan dimudahkan proses menuju pernikahan saya nanti. Baik dari orang tua saya dan calon mertua saya nanti (yang entah siapa itu), mudah-mudahan calon suami saya, mempunyai sikap dan berani dalam mengambil keputusan, teguh dalam pendiriannya, mampu membimbing dalam ajaran agama dan dapat bekerja sama dengan baik sehingga mampu membangun rumah tangga yang baik, dunia akhirat.
01.00, dini hari
31 januari 2011
baru saja dapat email dari salah satu sahabat saya yang tinggal di bandung. rencananya akan saya baca besok pagi, tapi rasa penasaran dan ingin tahu saya cukup tinggi, dengan masalah yang saat ini sedang dia hadapi.
singkat cerita, sahabat saya berencana untuk lamaran tahun ini dengan pacarnya yang saat ini berdomisili di balikpapan. karena pekerjaan pacarnya dinas disana. hubungan mereka sudah cukup lama, seingat saya sudah hampir menginjak tiga tahun (kalau tidak salah). akhirnya mereka memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, menikah.
dalam email, kabar terakhir, komunikasi mereka tentang rencana pernikahan cukup lancar dan mereka sepakat bulan april akan melangsungkan lamaran dan bulan mei tahun depan akan melangsungkan pernikahan.
Kabar mengagetkan datang dari calon ibu mertua. Hubungan sahabat saya dengan calon ibu mertuanya cukup baik, tapi entah kenapa, tiba-tiba sang calon ibu mertua, melontarkan kata-kata yang tidak enak didengar oleh sahabat saya. Menurut saya, sangat tidak pantas, kata-kata seperti itu keluar dari mulut seorang ibu. Apa dia tidak berpikir, kalau seandainya posisinya terbalik.
Tingkat pendidikan seseorang tidak menjadi tolak ukur kesopanan bagi seorang individu. Bagi saya, tingkat pendidikan tidak cukup akurat untuk dapat mengukur kesopanan dalam berprilaku dan bertutur kata dari seseorang. Status sosial inilah yang membuat segalanya berantakan, ditambah lagi dengan latar belakang keluarga.
Memang apa salahnya kalau orang tua kita sudah berstatus janda atau duda????? Janda bercerai?? Duda bercerai???. Apa letak masalahnya??? Apakah kita, sebagai anak juga ikut berstatus “janda atau duda” ??. lantas apa kita menjadi anak yang hina yang lahir dari orang tua yang berstatus “janda atau duda”.
Orang itu pada dasarnya sok tahu!!!!!!!. Belum bertanya, sejarah di balik cerita status “janda atau duda”. Apa iya keluarga yang utuh, menjanjikan produksi anak-anak yang berkualitas????.
Jujur saja, saya marah, saya emosi. Sopan sekali seorang calon ibu mertua bicara dengan kata-kata yang tidak pantas keluar dari mulutnya ke calon menantunya. Dia memang bukan seorang anak yang lahir dari rahimnya, tapi apakah pantas dia mendapat perlakuan seperti itu?? apa karena dia lahir dari seorang ibu yang berstatus janda?? Apa pantas dia diperlakukan seperti itu??. Otaknya dimana sih??.
“klo kamu sudah nikah, kamu harus kerja, biar bisa kasih uang ke ibu kamu. jadi uang mas ngga kamu ganggu”
GILA!!!!!!.....seandainya kata-kata itu keluar dari mulut calon ibu mertua saya, lebih baik saya mundur jadi calon menantunya. Bisa-bisa sampai akhir hayat saya, tidak akan pernah akur. Daripada menambah dosa saya, lebih baik saya mundur. Silahkan ibu, cari calon menantu yang pantas bagi putra ibu.
Sekali lagi, karena cinta dan kasih sayang, mampu mengalahkan kata-kata dan sikap itu. DAMN!!!!! Dunia tidak adil, Ya Tuhan, apa maksud di balik itu semua???.
Apakah sebuah pernikahan yang Engkau katakan dalam kitab suci adalah sebagian dari ibadah itu malah menjadi masalah baru, yang mampu menimbulkan penyakit hati dari mertua ke menantu??. Katanya dapat menjalin dan menyatukan silahturahmi, tapi kenapa yang ada seperti itu??
Iman seorang memang terus diuji sampai akhir hayat, tapi sungguh, ketika saya membaca email sahabat saya. Kejadian itu bagaikan saya yang mengalaminya, betapa sakit hati saya membaca kejadian yang sahabat saya alami.
Jadi teringat setahun yang lalu. Seandainya saja, saya masih berhubungan dengan pacar saya yang sudah tujuh tahun lamanya saya berhubungan. Mungkin saja, ketika saya dan dia berencana akan melangkah ke jenjang yang lebih serius, saya akan mengalami hal yang sama. Astagfirullah. Bersyukur saya telah mengakhiri hubungan, kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana sakit hatinya saya.
Manusia suka lupa, siapa dia!. Dia bukan Tuhan, yang bisa mengkategorikan orang seenak jidatnya. Menentukan siapa yang pantas atau tidak untuk bersanding dengan hasil keturunannya.
Insyallah, orang tua saya, dan orang tua sahabat saya tidak seperti itu. Insyallah selalu diberikan keimanan yang lebih baik, dan mampu bersopan santun dalam bersikap dan bertutur kata.
Jujur saja, saya juga semakin takut membayangkan proses menuju jenjang pernikahan. Kenapa hal yang seharusnya mudah, -dalam artian akan selalu ada jalan keluarnya- selalu dibuat rumit?. Saya tidak mampu membayangi ketika berada di posisi dalam proses menuju pernikahan saya nanti. Insyallah, diberi umur panjang dan dimudahkan proses menuju pernikahan saya nanti. Baik dari orang tua saya dan calon mertua saya nanti (yang entah siapa itu), mudah-mudahan calon suami saya, mempunyai sikap dan berani dalam mengambil keputusan, teguh dalam pendiriannya, mampu membimbing dalam ajaran agama dan dapat bekerja sama dengan baik sehingga mampu membangun rumah tangga yang baik, dunia akhirat.
Tuesday, 22 March 2011
cling (che).
kalimat klise ada di benak saya. “hidup adalah sebuah pilihan dan keputusan, dimana sebuah konsekuensi dan resiko selalu ada di dalamnya”. tidak enaknya jadi manusia yang sedang berjalan di pertengahan umur dua puluhan adalah masa transisi dari bocah kecil yang hanya memiliki satu tanggung jawab kemudian menjadi sosok bocah yang berusaha menjadi (sok) dewasa yang dihadapi dengan berbagai macam tanggung jawab.
belum renta, belum juga tua dan rapuh. tapi selalu saja mengeluh. itulah kamu, saya, yang berada di umur dua puluhan. bermimpi, berambisi, dan menstimuli diri sendiri untuk meraih apa itu yang dinamakan cita-cita. sebuah jawaban akan keberhasilan orang tua kita dalam mendidik dan menjadikan kita sebagai individu yang konsisten dengan usaha-usaha dalam pencapaian cita-cita itu sendiri.
lalu, saya bertanya pada diri sendiri. “kamu sudah puas?”, jawaban saya “tidak tahu, saya mungkin tidak akan pernah puas”. kemudian saya teringat pelajaran ilmu ekonomi ketika masih duduk di bangku sekolah, bahwa pada dasarnya manusia itu sifatnya tidak pernah puas..
to be continued…
belum renta, belum juga tua dan rapuh. tapi selalu saja mengeluh. itulah kamu, saya, yang berada di umur dua puluhan. bermimpi, berambisi, dan menstimuli diri sendiri untuk meraih apa itu yang dinamakan cita-cita. sebuah jawaban akan keberhasilan orang tua kita dalam mendidik dan menjadikan kita sebagai individu yang konsisten dengan usaha-usaha dalam pencapaian cita-cita itu sendiri.
lalu, saya bertanya pada diri sendiri. “kamu sudah puas?”, jawaban saya “tidak tahu, saya mungkin tidak akan pernah puas”. kemudian saya teringat pelajaran ilmu ekonomi ketika masih duduk di bangku sekolah, bahwa pada dasarnya manusia itu sifatnya tidak pernah puas..
to be continued…
Saturday, 4 December 2010
gelap
diantara gelap, ada secercah sinar yang berusaha masuk ke dalam gelap. memberikan oksigen baru diantara gelap yang mengelilingi. memberi sebuah harapan, seperti harapan tanah baru, harapan wangi tanah segar yang akan segera diguyur dengan hujan. harapan itu seperti sinar yang terus memaksa masuk ke dalam gelap, berusaha mendobrak pintu gelap yang selalu tertutup dengan rapat.
andaikan saja sinar itu lebih kuat memperlihatkan sinarnya. mungkin gelap tidak akan segan untuk membuka pintunya secara perlahan. berusaha melihat dunianya yang telah lama ditinggalkan. seandainya ada penjelasan pasti bagaimana gelap mengunci rapat pintunya dan memutuskan ditemani kegelapan. dan sinar susah payah berusaha dan akhirnya sinarpun semakin lama meredup dan gelap semakin gulita, semakin gelap gulita.
tak ada secercah sinar yang berusaha memasuki dan mendobrak pintu gelap. tak ada harapan akan secercah sinar yang lalu datang kembali atau mungkin sinar itu hanya datang sementara, memberi sedikit pengharapan akan sinarnya yang menyilaukan. tak ada yang tahu,
andaikan saja sinar itu lebih kuat memperlihatkan sinarnya. mungkin gelap tidak akan segan untuk membuka pintunya secara perlahan. berusaha melihat dunianya yang telah lama ditinggalkan. seandainya ada penjelasan pasti bagaimana gelap mengunci rapat pintunya dan memutuskan ditemani kegelapan. dan sinar susah payah berusaha dan akhirnya sinarpun semakin lama meredup dan gelap semakin gulita, semakin gelap gulita.
tak ada secercah sinar yang berusaha memasuki dan mendobrak pintu gelap. tak ada harapan akan secercah sinar yang lalu datang kembali atau mungkin sinar itu hanya datang sementara, memberi sedikit pengharapan akan sinarnya yang menyilaukan. tak ada yang tahu,
Monday, 29 November 2010
pop mie...
"mau beli sesuatu dulu ga sebelum balik?" kata aku
"hmm, aku lapar sih, pengen makan pop mie gitu, kamu mau ga?" kata dia
"mm, boleh deh, tapi kan aku pengen diet. beliin aja deh, sekalian titip aqua sama dunhill lights menthol yah. makasi sayang." kataku
"ok. nanti berhenti di circle k, riau aja yah." kata dia
"siap bos besar." kataku
malam itu, aku sebagai supir, sepulangnya kami dari perjalanan mengelilingi kota bandung. sebagai dua pribadi yang sama-sama telah menghabiskan lima tahun di kota bandung. kami berdua bernostalgia dengan kota tersebut. percakapan malam itu di mobil seakan tidak terbataskan oleh waktu. kami berdua betul menikmati akhir pekan yang sudah direncanakan walaupun pada prakteknya kendala dana menjadi salah satu halangan. tetapi tidak pula menyurutkan semangat kami berdua yang menikmati konser salah satu band yang berasal dari australia.
"aku ga turun yah, jadi ga usah parkir" kataku
"ok, kamu mau pop mie rasa apa? atau kamu ikutin aku aja yah?' kata dia
"aku apa aja deh, jangan lupa aqua sama dunhill ya" kataku
"ok" kata dia
aku menjalankan mobil dan memutar arah balik dan menunggu di seberang jalan. dan kulihat dia melalui kaca spion tengah mobilnya. di kegelapan, tampak dia membawa kantong plastik yang berisikan pop mie, aqua, rokok, dan beberapa cemilan. aku bisa menebaknya dari jauh. dalam hati aku bergumam, tidak kupercaya, malam ini aku bersamanya, seakan tak ada batas waktu dan waktu yang jelas terlihat di jam digital mobilnya membuatku uring-uringan, karena aku tidak ingin segera berakhir. aku tidak ingin berganti hari, aku tidak ingin berganti pagi. aku ingin tetap malam, karena aku ingin menikmati waktuku bersama dia.
tok tok.. dan dia mengetuk kaca jendela mobil, menyadarkan aku dari lamunan kosong malam hari.
"kamu digodain tuh sama cowo-cowo" kata dia
"huh?..gila kamu yah, aku suka digodain sama cowo-cowo kayak gitu" kataku
"ya, siapa tau." kata dia
"jangan rese deh." kataku
"hehe..iya iya. maaf deh" kata dia
dan dia memasukkan kunci kamar ke lubang kunci di pintu itu, dan pintu pun terbuka. hawa pendingin kamar itu mulai tercium, lampu kamar tersebut mulai menerangi kamar yang dipenuhi dengan warna putih. kami berdua sibuk membersihkan diri dan merapihkan tas-tas kami yang berantakan.
"aku tuh ga suka deh, kalo berantakan. aku suka segala sesuatunya ada di tempatnya" kataku
"sama aku juga." kata dia, sambil sibuk melipat-lipat pakaiannya, sambil memisahkan pakaian kotor dan bersih.
"berarti kita sama. hihih..seneng deh." kataku
dan aku pun tersenyum, melihat tingkah lakunya yang cukup perhatian dengan barang bawaannya dan senang melihat segala sesuatunya dengan rapih. aku tetap sibuk melipat-lipat pakaianku, memilih akan memakai baju apa besok.
"kamu udah selesai belom bersih-bersihnya?" kata dia
"udah sih, tapi mau cuci muka dan sikat gigi dulu, kenapa?" kataku
"loh, katanya mau makan pop mie, kok udah sikat gigi?" kata dia
"hoo santai, tinggal sikat gigi lagi, ga susah kan. yang pasti mau ganti baju dulu. biar nyaman." kataku
"ya udah, aku buatin pop mienya dulu yah. tapi air panasnya darimana ya?" kata dia
"hmm, kamu minta ke restoran bawah, nanti dikasih termos biasanya." kataku
"sebentar, kalau ga salah tadi ada dispenser." kata dia
"ya udah, kamu cek gih. klo ga yah, kamu ke bawah" kataku
"huee, ada dispenser tau. kamu mau rasa bawang apa kari?' kata dia
"apa aja deh aku" kataku, yang sedang sibuk memakai krim malam mukaku.
dan tak lama kemudian, dia pun datang dengan kedua tangannya yang sedang memegang pop-mie. dia masih bingung, memilih pop mie rasa apa yang akan dia makan. lalu, dia menyalakan tv dan mulai menyiapkan garpu makan pop mie, sambil mengaduknya mie tersebut sehingga bisa tercampur dengan bumbunya.
dia taruh kedua pop mie tersebut di meja samping tempat tidur. dia sudah duduk manis di atas kasur dengan remote tv di samping tangan kanannya. dan aku mulai duduk di kasur menemaninya. sambil melirik ke samping meja, memilih rasa apa yang aku ambil. aku memilih ayam bawang, dan dia kari ayam.
kami berdua seperti anak kecil yang sedang makan di atas kasur. jika ada orang tua, pasti sudah dimarahi karena makan di atas kasur. dengan berselimutan, kami menikmati pop mie, dengan hawa dingin di kamar dan film-film aneh dini hari yang ditayangkan di salah satu tv channel. katanya menayangkan film-film box office, tapi malam itu kami tidak menemukan film bagus. sambil sibuk makan dan tertawa, kami menikmati cuplikan pidato obama, yang beberapa hari lalu berkunjung ke indonesia. dan mulai saat itu, kami muali berbincang-bincang dengan topik obama dan topik pembicaraan pun semakin meluas.
panasnya pop mi, dan lilitan mie di dalam mangkok plastik itu seperti perbincangan kami saat itu, menyenangkan dan begitu menikmati nostalgia dengan kota bandung, yang lima tahun lalu kami menjadi penghuni sementara. dan di sela-sela keasikan kami dengan pop mie malam itu.
"seandainya, aku udah kenal kamu dari dulu yah" kataku
"kenapa, emangnya?" kata dia
"gpp. aku seneng hari ini. makasih yah." kataku
"sama-sama. aku juga seneng."kata dia, sambil mendekat dan mencium keningku
dan aku pun luluh karena dia mencium keningku.
"kamu tau, aku pengen deh, nanti kalo punya kamar sendiri. sebelum tidur, baca buku atau koran, dan diskusi abis itu baru tidur" kataku
"sama, aku juga mau kayak gitu" kata dia
"and (dengan muka nakal) we could probably have sex. if we legally married, of course" kataku sambil tertawa karena senang meledek dirinya.
"hahaha, yes we could, you naughty girl" kata dia
"hehe, but you love me, you really love me." kataku sambil mengejek
"got your point lady" kata dia
dan malam itu kami tertawa, sambil menikmati pop mie di tengah malam dan ditutup dengan sebatang rokok.
"hmm, aku lapar sih, pengen makan pop mie gitu, kamu mau ga?" kata dia
"mm, boleh deh, tapi kan aku pengen diet. beliin aja deh, sekalian titip aqua sama dunhill lights menthol yah. makasi sayang." kataku
"ok. nanti berhenti di circle k, riau aja yah." kata dia
"siap bos besar." kataku
malam itu, aku sebagai supir, sepulangnya kami dari perjalanan mengelilingi kota bandung. sebagai dua pribadi yang sama-sama telah menghabiskan lima tahun di kota bandung. kami berdua bernostalgia dengan kota tersebut. percakapan malam itu di mobil seakan tidak terbataskan oleh waktu. kami berdua betul menikmati akhir pekan yang sudah direncanakan walaupun pada prakteknya kendala dana menjadi salah satu halangan. tetapi tidak pula menyurutkan semangat kami berdua yang menikmati konser salah satu band yang berasal dari australia.
"aku ga turun yah, jadi ga usah parkir" kataku
"ok, kamu mau pop mie rasa apa? atau kamu ikutin aku aja yah?' kata dia
"aku apa aja deh, jangan lupa aqua sama dunhill ya" kataku
"ok" kata dia
aku menjalankan mobil dan memutar arah balik dan menunggu di seberang jalan. dan kulihat dia melalui kaca spion tengah mobilnya. di kegelapan, tampak dia membawa kantong plastik yang berisikan pop mie, aqua, rokok, dan beberapa cemilan. aku bisa menebaknya dari jauh. dalam hati aku bergumam, tidak kupercaya, malam ini aku bersamanya, seakan tak ada batas waktu dan waktu yang jelas terlihat di jam digital mobilnya membuatku uring-uringan, karena aku tidak ingin segera berakhir. aku tidak ingin berganti hari, aku tidak ingin berganti pagi. aku ingin tetap malam, karena aku ingin menikmati waktuku bersama dia.
tok tok.. dan dia mengetuk kaca jendela mobil, menyadarkan aku dari lamunan kosong malam hari.
"kamu digodain tuh sama cowo-cowo" kata dia
"huh?..gila kamu yah, aku suka digodain sama cowo-cowo kayak gitu" kataku
"ya, siapa tau." kata dia
"jangan rese deh." kataku
"hehe..iya iya. maaf deh" kata dia
dan dia memasukkan kunci kamar ke lubang kunci di pintu itu, dan pintu pun terbuka. hawa pendingin kamar itu mulai tercium, lampu kamar tersebut mulai menerangi kamar yang dipenuhi dengan warna putih. kami berdua sibuk membersihkan diri dan merapihkan tas-tas kami yang berantakan.
"aku tuh ga suka deh, kalo berantakan. aku suka segala sesuatunya ada di tempatnya" kataku
"sama aku juga." kata dia, sambil sibuk melipat-lipat pakaiannya, sambil memisahkan pakaian kotor dan bersih.
"berarti kita sama. hihih..seneng deh." kataku
dan aku pun tersenyum, melihat tingkah lakunya yang cukup perhatian dengan barang bawaannya dan senang melihat segala sesuatunya dengan rapih. aku tetap sibuk melipat-lipat pakaianku, memilih akan memakai baju apa besok.
"kamu udah selesai belom bersih-bersihnya?" kata dia
"udah sih, tapi mau cuci muka dan sikat gigi dulu, kenapa?" kataku
"loh, katanya mau makan pop mie, kok udah sikat gigi?" kata dia
"hoo santai, tinggal sikat gigi lagi, ga susah kan. yang pasti mau ganti baju dulu. biar nyaman." kataku
"ya udah, aku buatin pop mienya dulu yah. tapi air panasnya darimana ya?" kata dia
"hmm, kamu minta ke restoran bawah, nanti dikasih termos biasanya." kataku
"sebentar, kalau ga salah tadi ada dispenser." kata dia
"ya udah, kamu cek gih. klo ga yah, kamu ke bawah" kataku
"huee, ada dispenser tau. kamu mau rasa bawang apa kari?' kata dia
"apa aja deh aku" kataku, yang sedang sibuk memakai krim malam mukaku.
dan tak lama kemudian, dia pun datang dengan kedua tangannya yang sedang memegang pop-mie. dia masih bingung, memilih pop mie rasa apa yang akan dia makan. lalu, dia menyalakan tv dan mulai menyiapkan garpu makan pop mie, sambil mengaduknya mie tersebut sehingga bisa tercampur dengan bumbunya.
dia taruh kedua pop mie tersebut di meja samping tempat tidur. dia sudah duduk manis di atas kasur dengan remote tv di samping tangan kanannya. dan aku mulai duduk di kasur menemaninya. sambil melirik ke samping meja, memilih rasa apa yang aku ambil. aku memilih ayam bawang, dan dia kari ayam.
kami berdua seperti anak kecil yang sedang makan di atas kasur. jika ada orang tua, pasti sudah dimarahi karena makan di atas kasur. dengan berselimutan, kami menikmati pop mie, dengan hawa dingin di kamar dan film-film aneh dini hari yang ditayangkan di salah satu tv channel. katanya menayangkan film-film box office, tapi malam itu kami tidak menemukan film bagus. sambil sibuk makan dan tertawa, kami menikmati cuplikan pidato obama, yang beberapa hari lalu berkunjung ke indonesia. dan mulai saat itu, kami muali berbincang-bincang dengan topik obama dan topik pembicaraan pun semakin meluas.
panasnya pop mi, dan lilitan mie di dalam mangkok plastik itu seperti perbincangan kami saat itu, menyenangkan dan begitu menikmati nostalgia dengan kota bandung, yang lima tahun lalu kami menjadi penghuni sementara. dan di sela-sela keasikan kami dengan pop mie malam itu.
"seandainya, aku udah kenal kamu dari dulu yah" kataku
"kenapa, emangnya?" kata dia
"gpp. aku seneng hari ini. makasih yah." kataku
"sama-sama. aku juga seneng."kata dia, sambil mendekat dan mencium keningku
dan aku pun luluh karena dia mencium keningku.
"kamu tau, aku pengen deh, nanti kalo punya kamar sendiri. sebelum tidur, baca buku atau koran, dan diskusi abis itu baru tidur" kataku
"sama, aku juga mau kayak gitu" kata dia
"and (dengan muka nakal) we could probably have sex. if we legally married, of course" kataku sambil tertawa karena senang meledek dirinya.
"hahaha, yes we could, you naughty girl" kata dia
"hehe, but you love me, you really love me." kataku sambil mengejek
"got your point lady" kata dia
dan malam itu kami tertawa, sambil menikmati pop mie di tengah malam dan ditutup dengan sebatang rokok.
Subscribe to:
Posts (Atom)