07 oktober 2011
Dua bulan jelang bulan desember. Dua puluh empat tahun yang lalu di bulan desember tanggal dua puluh delapan tahun 1986, lahir seorang anak perempuan ke dunia. Takdir menuliskan lahir sebagai anak pertama dari pasangan annas setiawan wangsadipura dan angela efianda lukman. Cucu pertama di keluarga ayah dan cucu kelima di keluarga ibu (uhm, klo ga salah :D).
Jika lihat hasil dokumentasi foto waktu kecil dulu, anak perempuan ini lucu dan cukup menggemaskan. Badan gempal, berkulit putih, matanya besar, rambutnya tipis dan berdiri seperti habis kesetrum listrik. Menurut cerita, anak perempuan ini tidak bisa diam, cukup pintar bergaya di depan kamera foto. Harapan setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang pintar, sholeha, berguna bagi orang tua, bangsa dan negara (ok, yang terakhir agak berat ya). Ya, mudah-mudahan doa dan harapan kedua orang tua saya terkabul. Amin.
Ok, skip di bagian balita karena tidak begitu banyak yang bisa diingat. Harusnya ada sesi wawancara khusus beberapa anggota keluarga tapi kalau dipikir tidak terlalu penting.
My life begin when I was in my early school. Kalau ditanya soal dimana taman kanak-kanak saya dulu dimana, yang diingat hanya tk.pertiwi di surabaya, tapi sebelum itu sempat juga di tk yang saya sendiri lupa namanya apa. lulus tk masuk sd muhammadiyah pucang anom surabaya. sebagai murid kelas satu, saya tidak termasuk anak yang pintar tapi justru termasuk anak yang tidak bisa diam di kelas. Ibu yani, nama guru kelas satu saya waktu itu.
Tubuhnya kecil mungil, memakai jilbab, dan berkacamata. Setiap bu yani memberi tugas di kelas, dia akan berkeliling sambil memeriksa apakah anak-anak mengerjakan tugas sesuai dengan yang diperintahkannya dan cuma satu murid yang tidak duduk diam di kelas. Murid itu ikut berkeliling dengan posisi di belakang bu yani dan murid itu adalah saya (ehehehe).
To be continue..
Thursday, 6 October 2011
Wednesday, 17 August 2011
Love and a question by Robert Frost
A stranger came to the door at eve,
And he spoke the bridegroom fair.
He bore a green-white stick in his hand,
And, for all burden, care.
He asked with the eyes more than the lips
For a shelter for the night,
And he turned and looked at the road afar
Without a window light.
The bridegroom came forth into the porch
With, 'Let us look at the sky,
And question what of the night to be,
Stranger, you and I.'
The woodbine leaves littered the yard,
The woodbine berries were blue,
Autumn, yes, winter was in the wind;
'Stranger, I wish I knew.'
Within, the bride in the dusk alone
Bent over the open fire,
Her face rose-red with the glowing coal
And the thought of the heart's desire.
The bridegroom looked at the weary road,
Yet saw but her within,
And wished her heart in a case of gold
And pinned with a silver pin.
The bridegroom thought it little to give
A dole of bread, a purse,
A heartfelt prayer for the poor of God,
Or for the rich a curse;
But whether or not a man was asked
To mar the love of two
By harboring woe in the bridal house,
The bridegroom wished he knew.
And he spoke the bridegroom fair.
He bore a green-white stick in his hand,
And, for all burden, care.
He asked with the eyes more than the lips
For a shelter for the night,
And he turned and looked at the road afar
Without a window light.
The bridegroom came forth into the porch
With, 'Let us look at the sky,
And question what of the night to be,
Stranger, you and I.'
The woodbine leaves littered the yard,
The woodbine berries were blue,
Autumn, yes, winter was in the wind;
'Stranger, I wish I knew.'
Within, the bride in the dusk alone
Bent over the open fire,
Her face rose-red with the glowing coal
And the thought of the heart's desire.
The bridegroom looked at the weary road,
Yet saw but her within,
And wished her heart in a case of gold
And pinned with a silver pin.
The bridegroom thought it little to give
A dole of bread, a purse,
A heartfelt prayer for the poor of God,
Or for the rich a curse;
But whether or not a man was asked
To mar the love of two
By harboring woe in the bridal house,
The bridegroom wished he knew.
Tonight I Can Write by Pablo Neruda
Tonight I can write the saddest lines.
Write, for example, 'The night is starry
and the stars are blue and shiver in the distance.'
The night wind revolves in the sky and sings.
Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.
Through nights like this one I held her in my arms.
I kissed her again and again under the endless sky.
She loved me, sometimes I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.
Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.
To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.
What does it matter that my love could not keep her.
The night is starry and she is not with me.
This is all. In the distance someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.
My sight tries to find her as though to bring her closer.
My heart looks for her, and she is not with me.
The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.
I no longer love her, that's certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.
Another's. She will be another's. As she was before my kisses.
Her voice, her bright body. Her infinite eyes.
I no longer love her, that's certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.
Because through nights like this one I held her in my arms
my soul is not satisfied that it has lost her.
Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.
Thursday, 4 August 2011
santai saja.
kali ini saya berharap dengan menutup kedua telinga, duduk manis di depan layar kosong, sambil menikmati setiap lagu yang secara acak bermain indah di kedua telinga.
to be continue
to be continue
Wednesday, 27 July 2011
.tentang sebuah nama.
Satu nama. Nama yang selalu tergiang di kepala. Dua tahun berlalu, masih saja nama itu menari bebas di kepala, meski nama itu kian samar di tahun ketiga, tapi tetap tidak bisa menghapus jejak manis kenangan tentang dirinya. Tentang sebuah nama yang berarti, hingga hari ini.
Dalam satu malam, malam bulan purnama. Pandanganku kabur, melebur dengan keindahan ciptaan Tuhan. Bulan purnama, langit malam terbentang luas,hanya beberapa bintang menemani kegagahan sang bulan. Pikiranku melayang jauh membuka peta dunia yang ada di kepalaku, berusaha memberikan titik pasti dimana lokasi kamu berada. Kamu di belahan dunia barat. Ragaku tak mampu menggapaimu, hanya doa yang kukirimkan untukmu.
Jiwaku berkelana, dalam dunia khayalku. Adakah kita menatap langit dan bulan yang sama?. Kamu pergi, pesan tersirat perih, suara berat dan asa yang mengganjal. Hati merintih perih dan pilu, tiap kali menyebut nama mu.
Asa ku, mimpi ku, impian ku, yang tidak akan pernah terucap meski setiap kata sudah kususun rapi, menjadi kalimat pasti dan indah. Kalimat yang akan kamu dengar dan dapat kamu cerna. Namun, tidak satu kata terucap.
Tentang sebuah nama. Nama yang kurindukan. Raga dan jiwa yang kunantikan. Dalam satu malam, malam penuh bintang dan sinar terang rembulan. Rindu yang sudah tidak terbendung.
Tentang sebuah nama.
Mungkin, hingga akhir waktu tak akan pernah raga dan jiwa kita bersatu. Jangankan bersatu. Saling tatap dan memahami arti dari nama kita berdua, saling mengerti tentang asa, mimpi, dan impian kita berdua. Mungkin, tidak akan pernah terjadi.
Tentang sebuah nama. Aku, kamu, kita, yang tak terhingga.
Dalam satu malam, malam bulan purnama. Pandanganku kabur, melebur dengan keindahan ciptaan Tuhan. Bulan purnama, langit malam terbentang luas,hanya beberapa bintang menemani kegagahan sang bulan. Pikiranku melayang jauh membuka peta dunia yang ada di kepalaku, berusaha memberikan titik pasti dimana lokasi kamu berada. Kamu di belahan dunia barat. Ragaku tak mampu menggapaimu, hanya doa yang kukirimkan untukmu.
Jiwaku berkelana, dalam dunia khayalku. Adakah kita menatap langit dan bulan yang sama?. Kamu pergi, pesan tersirat perih, suara berat dan asa yang mengganjal. Hati merintih perih dan pilu, tiap kali menyebut nama mu.
Asa ku, mimpi ku, impian ku, yang tidak akan pernah terucap meski setiap kata sudah kususun rapi, menjadi kalimat pasti dan indah. Kalimat yang akan kamu dengar dan dapat kamu cerna. Namun, tidak satu kata terucap.
Tentang sebuah nama. Nama yang kurindukan. Raga dan jiwa yang kunantikan. Dalam satu malam, malam penuh bintang dan sinar terang rembulan. Rindu yang sudah tidak terbendung.
Tentang sebuah nama.
Mungkin, hingga akhir waktu tak akan pernah raga dan jiwa kita bersatu. Jangankan bersatu. Saling tatap dan memahami arti dari nama kita berdua, saling mengerti tentang asa, mimpi, dan impian kita berdua. Mungkin, tidak akan pernah terjadi.
Tentang sebuah nama. Aku, kamu, kita, yang tak terhingga.
Saturday, 11 June 2011
Tuhan, dia tidak pandai dalam hal apapun, dan dia tidak dewasa.
akhirnya, mendapatkan juga waktu yang sudah lama dinanti-nantikan. sendiri, gelap,kepulan asap, senandung tembang mengalun, menerawang ke langit malam.
"and please, jadilah wanita dewasa ya dalam menghadapi masalah kamu".
kalimat itu, sulit baginya untuk dicerna. dua puluh empat tahun sudah menjalani apa yang namanya hidup. setiap hari pengalaman dan pelajaran berlalu. malam berganti pagi, pagi berganti malam. terus saja seperti itu. begitu banyak pelajaran, kebijaksanaan, dan arti yang berlalu. namun, tetap saja baginya sulit untuk dicerna. apa itu dewasa?. sejujurnya, sulit baginya untuk menyulam kata demi kata sehingga bisa menjadi kalimat yang setidaknya enak untuk dibaca. otaknya bergerak dengan cepat, bagaikan film yang sedang dipercepat geraknya, sehingga tidak bisa dihentikan di bagian mana yang tepat.
sigh.
sejak dulu, ada rasa getir, takut, dan malu, tapi ada pula rasa ingin menunjukan identitas dirinya di depan orang, terutama kedua orang tuanya. ingin menunjukkan siapa dia sesungguhnya. menunjukan bahwa setidaknya dia adalah manusia yang cukup berguna. berharap berguna bagi kedua orang tuanya. baginya, dia merasa cukup dapat menjalani, menyadari dan menghadapi kerasnya hidup ini. terperangkap dalam kejenuhan rutinitas sehari-hari. terbelenggu dalam sebuah identitas baru dan idealismenya. membuat ruang geraknya terbatas. kemudian, berakhir dalam satu kesimpulan bahwa dia hanya orang bodoh yang belum mampu dan cukup tahu dan cukup pintar dalam menjalani semua ini.
ya, dia memang tidak sepandai kedua saudaranya. kedua saudara yang menjadi kebanggaan orang tuanya. kedua saudara yang berbeda tingkah laku dan kepribadian dengan dirinya. salahkah dia Tuhan, jika dia merasa bahwa dia berbeda dengan kedua saudaranya? salahkah dia Tuhan bahwa dia memiliki keinginan, kebiasaan, dan kesukaan yang berbeda? salahkan dia Tuhan bahwa dia memberontak? salahkah dia Tuhan bahwa dia akhirnya memilih untuk bungkam? salahkah dia Tuhan bahwa akhirnya dia bersikap acuh? salahkah dia Tuhan bahwa akhirnya dia mencari sebuah kenyamanan di luar lingkungan kecilnya, yaitu keluarganya? salahkah dia Tuhan?.
lahir dua puluh empat tahun yang lalu, di bulan akhir tahun. dia perasa, dia suka berteman, bertemu banyak orang, dia suka bicara, dia suka bermain, dia suka bermimpi, dia suka olahraga, dia suka jalan-jalan, dia suka merokok, dia suka minum bir, dia suka duduk berlama-lama di kedai kopi atau tempat makan bersama teman-temannya menghabiskan waktu, berbicara, tertawa, dia suka sepatu, dia suka baju, dia suka tas, dia suka bersolek walaupun tidak berlebihan, dia suka menulis walaupun tidak lihai, dia suka berbohong walaupun terpaksa, hanya agar dia bisa mendapat apa yang dia inginkan dan dia malas.
dia tidak pintar, dia tidak suka matematika, yang intinya dia tidak suka berhitung. dia tidak suka hal yang berbau politik, hukum dan birokrasi. dia tidak banyak paham tentang hukum ketatanegaraan, dia tidak banyak tahu sejarah, pengetahuan dia tidak seluas kedua saudaranya. dia tidak pintar dalam teknologi, dia tidak pandai dalam menjaga emosinya bahkan menutupi emosinya dia tidak bisa, dia tidak pandai dalam bahasa asing, kemampuan bahasa asing yang dia miliki sejak kecil semakin melemah, kalah jauh dari kedua saudaranya. dia tidak memiliki prestasi yang banyak. dia tidak pandai dalam mengatur keuangan, intinya dia boros, dan dia tidak pandai dalam berkomunikasi (dia malu karena lulus sebagai sarjana sosial dari fakultas ilmu komunikasi, di salah satu universitas negeri di negaranya).
dia sadar kelemahan dia. dia tahu, dimana dia salah. ya, walaupun dia keras kepala.tapi, dia cukup yakin bahwa dia tidak bodoh. dia ingin belajar, dia ingin bisa, dia ingin pintar, dia ingin berwawasan luas. singkat kata, dia ingin bisa sejajar dengan kedua saudaranya. dia ingin dilihat, ingin didengar, diperhatikan oleh kedua orang tuanya. ya, hanya itu yang dia inginkan.
dia menyesal dalam waktu yang singkat, ketika di masa sekolah dulu, dia tidak benar-benar mempelajari apa yang seharusnya dia pelajari. dia benar-benar menyesal ketika di masa itu dia menjadi pelajar yang malas. dia menyesal. terlambatkah dia, Tuhan, jika dia ingin memperbaiki semuanya?. jika ya, maka kuatkanlah dia dalam menjalani ini semua.
dia perasa, dia ingin menangis, menjerit, berlari jauh, menghilangkan rasa perih, sakit, marah, kesal, dan sedikit dendam yang dia simpan di dalam lubuk hatinya. dia ingin menjadi lebih baik. dia ingin berubah, mungkinkah Tuhan?!.
dia memang tidak dewasa, dan dia tidak pandai dalam hal apapun. namun, dia ingin belajar, dia ingin bisa. paling tidak nanti, di waktu yang tepat dia bisa hidup di atas kaki dia sendiri, tidak menyusahkan orang lain. dia hanya ingin itu Tuhan.
Tuhan, dia malu, dia sangat malu!.
"and please, jadilah wanita dewasa ya dalam menghadapi masalah kamu".
kalimat itu, sulit baginya untuk dicerna. dua puluh empat tahun sudah menjalani apa yang namanya hidup. setiap hari pengalaman dan pelajaran berlalu. malam berganti pagi, pagi berganti malam. terus saja seperti itu. begitu banyak pelajaran, kebijaksanaan, dan arti yang berlalu. namun, tetap saja baginya sulit untuk dicerna. apa itu dewasa?. sejujurnya, sulit baginya untuk menyulam kata demi kata sehingga bisa menjadi kalimat yang setidaknya enak untuk dibaca. otaknya bergerak dengan cepat, bagaikan film yang sedang dipercepat geraknya, sehingga tidak bisa dihentikan di bagian mana yang tepat.
sigh.
sejak dulu, ada rasa getir, takut, dan malu, tapi ada pula rasa ingin menunjukan identitas dirinya di depan orang, terutama kedua orang tuanya. ingin menunjukkan siapa dia sesungguhnya. menunjukan bahwa setidaknya dia adalah manusia yang cukup berguna. berharap berguna bagi kedua orang tuanya. baginya, dia merasa cukup dapat menjalani, menyadari dan menghadapi kerasnya hidup ini. terperangkap dalam kejenuhan rutinitas sehari-hari. terbelenggu dalam sebuah identitas baru dan idealismenya. membuat ruang geraknya terbatas. kemudian, berakhir dalam satu kesimpulan bahwa dia hanya orang bodoh yang belum mampu dan cukup tahu dan cukup pintar dalam menjalani semua ini.
ya, dia memang tidak sepandai kedua saudaranya. kedua saudara yang menjadi kebanggaan orang tuanya. kedua saudara yang berbeda tingkah laku dan kepribadian dengan dirinya. salahkah dia Tuhan, jika dia merasa bahwa dia berbeda dengan kedua saudaranya? salahkah dia Tuhan bahwa dia memiliki keinginan, kebiasaan, dan kesukaan yang berbeda? salahkan dia Tuhan bahwa dia memberontak? salahkah dia Tuhan bahwa dia akhirnya memilih untuk bungkam? salahkah dia Tuhan bahwa akhirnya dia bersikap acuh? salahkah dia Tuhan bahwa akhirnya dia mencari sebuah kenyamanan di luar lingkungan kecilnya, yaitu keluarganya? salahkah dia Tuhan?.
lahir dua puluh empat tahun yang lalu, di bulan akhir tahun. dia perasa, dia suka berteman, bertemu banyak orang, dia suka bicara, dia suka bermain, dia suka bermimpi, dia suka olahraga, dia suka jalan-jalan, dia suka merokok, dia suka minum bir, dia suka duduk berlama-lama di kedai kopi atau tempat makan bersama teman-temannya menghabiskan waktu, berbicara, tertawa, dia suka sepatu, dia suka baju, dia suka tas, dia suka bersolek walaupun tidak berlebihan, dia suka menulis walaupun tidak lihai, dia suka berbohong walaupun terpaksa, hanya agar dia bisa mendapat apa yang dia inginkan dan dia malas.
dia tidak pintar, dia tidak suka matematika, yang intinya dia tidak suka berhitung. dia tidak suka hal yang berbau politik, hukum dan birokrasi. dia tidak banyak paham tentang hukum ketatanegaraan, dia tidak banyak tahu sejarah, pengetahuan dia tidak seluas kedua saudaranya. dia tidak pintar dalam teknologi, dia tidak pandai dalam menjaga emosinya bahkan menutupi emosinya dia tidak bisa, dia tidak pandai dalam bahasa asing, kemampuan bahasa asing yang dia miliki sejak kecil semakin melemah, kalah jauh dari kedua saudaranya. dia tidak memiliki prestasi yang banyak. dia tidak pandai dalam mengatur keuangan, intinya dia boros, dan dia tidak pandai dalam berkomunikasi (dia malu karena lulus sebagai sarjana sosial dari fakultas ilmu komunikasi, di salah satu universitas negeri di negaranya).
dia sadar kelemahan dia. dia tahu, dimana dia salah. ya, walaupun dia keras kepala.tapi, dia cukup yakin bahwa dia tidak bodoh. dia ingin belajar, dia ingin bisa, dia ingin pintar, dia ingin berwawasan luas. singkat kata, dia ingin bisa sejajar dengan kedua saudaranya. dia ingin dilihat, ingin didengar, diperhatikan oleh kedua orang tuanya. ya, hanya itu yang dia inginkan.
dia menyesal dalam waktu yang singkat, ketika di masa sekolah dulu, dia tidak benar-benar mempelajari apa yang seharusnya dia pelajari. dia benar-benar menyesal ketika di masa itu dia menjadi pelajar yang malas. dia menyesal. terlambatkah dia, Tuhan, jika dia ingin memperbaiki semuanya?. jika ya, maka kuatkanlah dia dalam menjalani ini semua.
dia perasa, dia ingin menangis, menjerit, berlari jauh, menghilangkan rasa perih, sakit, marah, kesal, dan sedikit dendam yang dia simpan di dalam lubuk hatinya. dia ingin menjadi lebih baik. dia ingin berubah, mungkinkah Tuhan?!.
dia memang tidak dewasa, dan dia tidak pandai dalam hal apapun. namun, dia ingin belajar, dia ingin bisa. paling tidak nanti, di waktu yang tepat dia bisa hidup di atas kaki dia sendiri, tidak menyusahkan orang lain. dia hanya ingin itu Tuhan.
Tuhan, dia malu, dia sangat malu!.
Tuesday, 24 May 2011
'aku' // 'kita' ??...
Mungkin, saya belum siap dengan kata “kita".
Mungkin, saya masih suka dan sedang menikmati “aku”.
Lalu, saya mencari apa yang “aku” cari.
Sehingga mampu memuaskan segala rasa haus akan pengalaman, canda tawa, haru, bangga, bahagia dan tangisan.
Sungguh, dalam hati saya tidak ingin menyakiti, siapapun.
Namun saya juga tidak bisa bohong kepada siapapun.
Bahwa saya juga ingin ada seseorang.
Seseorang yang menerima saya apa adanya, mau berjalan bersama ke tujuan yang masih samar di depan penglihatan.
Tapi, sungguh saya belum siap dengan “kita”.
Apakah pengalaman masa lalu begitu melukai hati?
Sehingga bekas luka dan penyesalan masih tersisa di dalam bawah sadar?
Ragu atas apa yang saya inginkan dalam hidup ini, diluar mimpi dan cita-cita.
Apa itu menikah? Apa itu mencinta?
Apa itu sayang? Apa itu berbagi?
Apa itu percaya? Apa itu komitmen?
Apa itu pengertian? Apa itu “kita”?
Apa itu semua. Tidak ada jawaban benar dan salah. Tidakkah bisa hal itu semua dibuatkan saja rumus atau teori yang pasti. Sehingga, hitam ya hitam, putih ya putih, tidak abu-abu.
Apa iya titik sebuah kehidupan manusia berakhir dengan “kita”?
Saya adalah istri kamu dan kamu adalah suami saya.
Apakah hidup berakhir disitu?
Walaupun banyak orang akan bilang “selamat menempuh hidup baru”.
Dimana letak hidup barunya?
Apa karena menjadi “kita”, maka akan menempuh hidup baru??
Apa karena dulu semua serba “aku”?
Mungkin, saya masih suka dan sedang menikmati “aku”.
Lalu, saya mencari apa yang “aku” cari.
Sehingga mampu memuaskan segala rasa haus akan pengalaman, canda tawa, haru, bangga, bahagia dan tangisan.
Sungguh, dalam hati saya tidak ingin menyakiti, siapapun.
Namun saya juga tidak bisa bohong kepada siapapun.
Bahwa saya juga ingin ada seseorang.
Seseorang yang menerima saya apa adanya, mau berjalan bersama ke tujuan yang masih samar di depan penglihatan.
Tapi, sungguh saya belum siap dengan “kita”.
Apakah pengalaman masa lalu begitu melukai hati?
Sehingga bekas luka dan penyesalan masih tersisa di dalam bawah sadar?
Ragu atas apa yang saya inginkan dalam hidup ini, diluar mimpi dan cita-cita.
Apa itu menikah? Apa itu mencinta?
Apa itu sayang? Apa itu berbagi?
Apa itu percaya? Apa itu komitmen?
Apa itu pengertian? Apa itu “kita”?
Apa itu semua. Tidak ada jawaban benar dan salah. Tidakkah bisa hal itu semua dibuatkan saja rumus atau teori yang pasti. Sehingga, hitam ya hitam, putih ya putih, tidak abu-abu.
Apa iya titik sebuah kehidupan manusia berakhir dengan “kita”?
Saya adalah istri kamu dan kamu adalah suami saya.
Apakah hidup berakhir disitu?
Walaupun banyak orang akan bilang “selamat menempuh hidup baru”.
Dimana letak hidup barunya?
Apa karena menjadi “kita”, maka akan menempuh hidup baru??
Apa karena dulu semua serba “aku”?
Subscribe to:
Posts (Atom)