Tuesday, 22 November 2011

WARM REGARDS1

HAI...

today, is the first day of my project work. i do hope this turn out to be something worth in the end, something to remember, something to laugh, something to cry, something to reach "our" personal wisdom in our life amd something to learn.

semua bermula dari sebuah mimpi, sebuah keinginan sederhana, sebuah keinginan dari hanya melihat, mencontoh, berimajinasi dan diakhiri dengan berusaha.

mimpi itu lalu perlahan memulai aksinya, merangkak secara perlahan namun pasti. meski dalam perjalanan bertemu dengan kerikil tajam hingga batu besar yang membuat susah berjalan, hingga harus kaki ini terseok untuk memulainya dari awal lagi. namun, siapa yang menyangka akhirnya sampai di perbatasan ini dan perjalanan ini belum ada setengah perjalanan. masih membutuhkan waktu, tenaga, mental, sabar, semangat, untuk bisa mencapai titik akhir. walaupun kata "titik akhir" hanya akan menjadi sebuah arti semu, karena kita manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar tahu dimana "titik akhir" kita tadi.

apakah kematian menjadi sebuah "titik akhir" sebuah kehidupan?? umm, tidak juga. toh, kematian 'ternyata' menjadi sebuah titik awal sebuah kehidupan dan perjalanan "abadi'. ya, orang bijak akan berkata seperti itu.


bagi saya, semua akan berakhir dengan semu. semua menjadi abu-abu, tidak ada yang benar pasti. dunia ini hanya sebuah lukisan Tuhan yang bergerak, dan setiap detik, menit, dan hari yang sudah atau akan kita lalui akan selalu menjadi sebuah awal dari cerita kita. cerita, aku, kamu, kita, yang tidak terhingga.


Sincerely
AA

Friday, 7 October 2011

dua puluh empat

Tahun 2011 sudah tinggal dalam hitungan dua bulan tidak dirasa waktu berlalu begitu cepat. Kini kita semua sudah berada di penghujung akhir tahun. Begitu banyak cerita, peristiwa yang terjadi di dalam hidup kita sehari-hari. Ada yang datang dan pergi, ada yang lahir dan mati. ada yang terencana dan tidak terencana. Semua kita lalui bersama yang berbeda hanya pada ruang waktu dan lokasi yang berbeda.

Tidak ada yang benar-benar sama, pasti ada lebih dan kurang. Kita manusia hanya mampu berusaha, berdoa, berharap dan bermimpi. Semua ingin bahagia, nyaman, dan sejahtera. Mungkin iketiga hal itu yang membuat kita sama.

Tahun ini, diumur kedua puluh empat banyak hal terjadi dalam hidup saya. Mulai dari hal yang bisa diduga hingga sampai pada hal tidak terduga sekalipun. Banyak rintangan dan cobaan yang dilalui. Orang bijak akan berkata, segala sesuatu yang terjadi hanya sebuah ujian hidup yang akan meluluskan kita sebagai manusia kuat atau tidak, manusia mandiri atau tidak. Bagi saya, manusia memang bisa mandiri tapi tidak benar bisa sendiri menjalani hidup ini. Butuh sebuah pengimbang agar hidup ini tidak terlalu berat dirasa di pundak kita. Kita perlu berbagi, mulai dari kesedihan, kesenangan, amarah, dendam, hingga rasa sakit. Kita perlu berbagi.

Kalau kata george clooney di filmnya "up in the air", everybody needs a co-pilot. Kalimat sederhana bermakna dalam. Ya setiap orang butuh 'co-pilot' dalam hidupnya. Menentukan siapa co-pilot yang tepat bagi kita ini yang menjadi sebua misteri yang cukup sulit untuk dipecahkan. Susah-susah gampang, sekali tanda tangan kontrak kita akan bersama dia. Bedanya dalam dunia penerbangan, co-pilot ini bisa saja berganti dalam jangka waktu yang sudah ditentukan oleh bos besar tapi dalam kehidupan nyata lain ceritanya. Jika sudah tanda tangan kontrak di buku hijau, secara tertulis kontrak co-pilot kita seumur hidup hanya Tuhan yang tau sampai kapan kontrak ini habis waktunya. Sebenarnya tidak beda jauh, mungkin di dunia penerbangan kita bisa berkompromi tapi di kehidupan nyata bagaimana kita berkompromi dengan Tuhan??. Ada yang tahu caranya? Bisa kasih tahu saya?.

Jelang keberangkatan liputan ekspedisi ke lombok dan bali bersama tim cetak, saya pulang ke rumah, menyempatkan bertemu keluarga walaupun tidak lengkap. Adik perempuan saya harus tinggal di asrama karena pekerjaannya di kementrian luar negeri. Malam itu, kedua orang tua mulai bertanya "kapan menikah?" Dan saya hanya bisa tertawa dan tersenyum. Kemudian ayah saya melanjutkan pertanyaanya "sudah siap belum meninggalkan kehidupan 'single'?" Saya makin terseyum dan tertawa. Lalu ibu mulai menyadarkan saya dengan berkata "kok kamu malah ketawa? Ga boleh gitu, umur kamu sekarang sudah 24, sudah cukup umur untuk memikirkan masa depan kamu". Ok, mendengar kata-kata ibu, saya terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa. Merangkai kata untuk menjadi kalimat yang dapat terdengar diplomatis atau setidaknya terdengar seperti orang dewasa saja sulit, yang keluar hanya "ga tau kapan, mungkin nanti". Cih, jawaban macam apa itu.

Ibu kembali mengingatkan dengan umur saya, dimana saya harus mulai bisa memilih, memutuskan dan menjalankan keputusan saya dengan baik. Bukan berarti harus cepat-cepat menikah tetapi memilih pasangan harus dipikir baik-baik karena ini untuk seumur hidup. Ayah kembali memberikan penyataan "yang penting harus dilihat dari seorang laki-laki itu agamanya. Pemahaman agama dia bagus atau tidak. Yang lain bisa menyusul. Bukan berarti tidak penting, tapi agama itu kan ibarat pondasi, kalau pondasinya sudah baik insyallah yang lain juga baik". Saya hanya terdiam.

Siapa yang menyangka bahwa saya akan tiba dalam suatu masa seperti ini. Kalau bahasa bocah, masa orang dewasa. Dalam hati saya tertawa geli dan saya bertanya pada diri sendiri dalam waktu bersamaan "apa saya bisa melewati masa ini dengan baik?" Tidak ada yng tahu. Saya hanya bisa berdoa, memohon kepada Tuhan, semoga diberikan kemudahan dalam melalui masa ini.

Jika balik bertanya kepada diri sendiri, saya tidak tahu apa yang benar-benar saya inginkan. wakti kecil dulu sepertinya saya tahu apa yang saya inginkan. Saya ingin menjadi seorang penyiar radio, penyiar berita, saya ingin bisa merasakan kerja paruh waktu, saya ingin sekolah jurusan komunikasi, ya saya ingin ini dan itu. Alhamdulillah, sampai detik ini saya bisa mencapai keinginan itu walaupun harus melewati beberapa rintangan yang sampai saat ini masih terus berlangsung. Ibarat pisau, yang harus selalu diasah biar terus tajam sehingga mampu terus untuk melaksanakan kewajibannya sebagai alat potong. Untuk kasus saya, harus terus diasah dengan rintangan agar terus mampu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang manusia.


Bersambung.

Thursday, 6 October 2011

catatan harian jelang 25 tahun

07 oktober 2011

Dua bulan jelang bulan desember. Dua puluh empat tahun yang lalu di bulan desember tanggal dua puluh delapan tahun 1986, lahir seorang anak perempuan ke dunia. Takdir menuliskan lahir sebagai anak pertama dari pasangan annas setiawan wangsadipura dan angela efianda lukman. Cucu pertama di keluarga ayah dan cucu kelima di keluarga ibu (uhm, klo ga salah :D).

Jika lihat hasil dokumentasi foto waktu kecil dulu, anak perempuan ini lucu dan cukup menggemaskan. Badan gempal, berkulit putih, matanya besar, rambutnya tipis dan berdiri seperti habis kesetrum listrik. Menurut cerita, anak perempuan ini tidak bisa diam, cukup pintar bergaya di depan kamera foto. Harapan setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi anak yang pintar, sholeha, berguna bagi orang tua, bangsa dan negara (ok, yang terakhir agak berat ya). Ya, mudah-mudahan doa dan harapan kedua orang tua saya terkabul. Amin.

Ok, skip di bagian balita karena tidak begitu banyak yang bisa diingat. Harusnya ada sesi wawancara khusus beberapa anggota keluarga tapi kalau dipikir tidak terlalu penting.

My life begin when I was in my early school. Kalau ditanya soal dimana taman kanak-kanak saya dulu dimana, yang diingat hanya tk.pertiwi di surabaya, tapi sebelum itu sempat juga di tk yang saya sendiri lupa namanya apa. lulus tk masuk sd muhammadiyah pucang anom surabaya. sebagai murid kelas satu, saya tidak termasuk anak yang pintar tapi justru termasuk anak yang tidak bisa diam di kelas. Ibu yani, nama guru kelas satu saya waktu itu.

Tubuhnya kecil mungil, memakai jilbab, dan berkacamata. Setiap bu yani memberi tugas di kelas, dia akan berkeliling sambil memeriksa apakah anak-anak mengerjakan tugas sesuai dengan yang diperintahkannya dan cuma satu murid yang tidak duduk diam di kelas. Murid itu ikut berkeliling dengan posisi di belakang bu yani dan murid itu adalah saya (ehehehe).

To be continue..

Wednesday, 17 August 2011

Love and a question by Robert Frost

A stranger came to the door at eve,
And he spoke the bridegroom fair.
He bore a green-white stick in his hand,
And, for all burden, care.
He asked with the eyes more than the lips
For a shelter for the night,
And he turned and looked at the road afar
Without a window light.

The bridegroom came forth into the porch
With, 'Let us look at the sky,
And question what of the night to be,
Stranger, you and I.'
The woodbine leaves littered the yard,
The woodbine berries were blue,
Autumn, yes, winter was in the wind;
'Stranger, I wish I knew.'

Within, the bride in the dusk alone
Bent over the open fire,
Her face rose-red with the glowing coal
And the thought of the heart's desire.

The bridegroom looked at the weary road,
Yet saw but her within,
And wished her heart in a case of gold
And pinned with a silver pin.

The bridegroom thought it little to give
A dole of bread, a purse,
A heartfelt prayer for the poor of God,
Or for the rich a curse;

But whether or not a man was asked
To mar the love of two
By harboring woe in the bridal house,
The bridegroom wished he knew.

Tonight I Can Write by Pablo Neruda


Tonight I can write the saddest lines.

Write, for example, 'The night is starry
and the stars are blue and shiver in the distance.'

The night wind revolves in the sky and sings.

Tonight I can write the saddest lines.
I loved her, and sometimes she loved me too.

Through nights like this one I held her in my arms.
I kissed her again and again under the endless sky.

She loved me, sometimes I loved her too.
How could one not have loved her great still eyes.

Tonight I can write the saddest lines.
To think that I do not have her. To feel that I have lost her.

To hear the immense night, still more immense without her.
And the verse falls to the soul like dew to the pasture.

What does it matter that my love could not keep her.
The night is starry and she is not with me.

This is all. In the distance someone is singing. In the distance.
My soul is not satisfied that it has lost her.

My sight tries to find her as though to bring her closer.
My heart looks for her, and she is not with me.

The same night whitening the same trees.
We, of that time, are no longer the same.

I no longer love her, that's certain, but how I loved her.
My voice tried to find the wind to touch her hearing.

Another's. She will be another's. As she was before my kisses.
Her voice, her bright body. Her infinite eyes.

I no longer love her, that's certain, but maybe I love her.
Love is so short, forgetting is so long.

Because through nights like this one I held her in my arms
my soul is not satisfied that it has lost her.

Though this be the last pain that she makes me suffer
and these the last verses that I write for her.

Thursday, 4 August 2011

santai saja.

kali ini saya berharap dengan menutup kedua telinga, duduk manis di depan layar kosong, sambil menikmati setiap lagu yang secara acak bermain indah di kedua telinga.


to be continue

Wednesday, 27 July 2011

.tentang sebuah nama.

Satu nama. Nama yang selalu tergiang di kepala. Dua tahun berlalu, masih saja nama itu menari bebas di kepala, meski nama itu kian samar di tahun ketiga, tapi tetap tidak bisa menghapus jejak manis kenangan tentang dirinya. Tentang sebuah nama yang berarti, hingga hari ini.

Dalam satu malam, malam bulan purnama. Pandanganku kabur, melebur dengan keindahan ciptaan Tuhan. Bulan purnama, langit malam terbentang luas,hanya beberapa bintang menemani kegagahan sang bulan. Pikiranku melayang jauh membuka peta dunia yang ada di kepalaku, berusaha memberikan titik pasti dimana lokasi kamu berada. Kamu di belahan dunia barat. Ragaku tak mampu menggapaimu, hanya doa yang kukirimkan untukmu.

Jiwaku berkelana, dalam dunia khayalku. Adakah kita menatap langit dan bulan yang sama?. Kamu pergi, pesan tersirat perih, suara berat dan asa yang mengganjal. Hati merintih perih dan pilu, tiap kali menyebut nama mu.

Asa ku, mimpi ku, impian ku, yang tidak akan pernah terucap meski setiap kata sudah kususun rapi, menjadi kalimat pasti dan indah. Kalimat yang akan kamu dengar dan dapat kamu cerna. Namun, tidak satu kata terucap.

Tentang sebuah nama. Nama yang kurindukan. Raga dan jiwa yang kunantikan. Dalam satu malam, malam penuh bintang dan sinar terang rembulan. Rindu yang sudah tidak terbendung.

‎​Tentang sebuah nama.

Mungkin, hingga akhir waktu tak akan pernah raga dan jiwa kita bersatu. Jangankan bersatu. Saling tatap dan memahami arti dari nama kita berdua, saling mengerti tentang asa, mimpi, dan impian kita berdua. Mungkin, tidak akan pernah terjadi.

‎​Tentang sebuah nama. Aku, kamu, kita, yang tak terhingga.