Monday, 24 February 2014

a confessions to make

So, winter is finally slowly gone and spring is just around the corner (hopefully) and i just did lots of things that sounds really miserable. Well, people might think that i am a loser or just a loner stranded in another continent hoping to get a clean slate of life and yet still stuck on the old habit. What is new is that i drank a couple of cheap white wine and a british tobacco and enjoying a very fast internet, keep on watching free films on internet without any interrupting from a buffering session, not like in my country though. Which is very amusing at the moment, but there comes a time when i finally realise that i have been procrastinating shit, i mean stuffs that need to be done. let's say my school stuff which i reckon i need to be out more doing some research which i haven't done it at all.

I suppose the weather is encourages me to stay in bed all day wondering what it feels like to have a lot of things to do, just like when i was working back home. Lots of deadline, lots of research which seems more real life. But, then i do acknowledge that some of people just jealous with what i have now and yet i feel so guilty about what i am doing. its like i don't have brain to work or think which i really need it at the moment. its like i am losing the ability to work on something, producing something that hopefully can inspire, motivate or at least people who's watching it can be informed by what i produced. I just being a totally shit.

My two main project which i did it on my first semester doesn't get a good feed back from the way i expected but hey, in other side, its what i am here for. i am learning, in the process of being a better journalist, filmmaker, writer, screenwriter, director (if that is so appropriate to say for me at the moment) or whatever you called it in these days. somehow, the feed back i did get its like a self reflection which i sort of already know and i knew i can do better, produce it better but i just don't. because i was to overwhelmed with what i got this moments then i totally forget, losing sight of focus, tempted by all things happens here and i just totally forget.

Then i started to questioning myself. Why am i here now?. Yes, i do know that i am pursuing my master. the one thing i have been dreaming of is finally come true but then as some wise person might say or cliche words we almost find it everywhere. Whenever it comes to your dreams, whether are you pursuing or have come true, it always, always comes the obstacles around to tempt and trying to push you down, disbelieving, doubting your faith in what your pursuing. Trust me, i feel really bless in what i have now at the moment, nothing i can ask more other than being healthy, keeping my family in a good health and prosperous way and please keep them while i am away thousand miles from home.

But, somehow i feel like my brain is stop working. I know, i know, it is me that making it stop from working, i just love delaying stuff which i know, i really need to run or more appropriate to say is i should sprint. what happened to me now is no one can help actually. no one can actually listen to me because i am the one who knows the exact get away from what i have been through and i can easily get distracted by what people think of me. people can easily judge nowadays by their social media but to know the truth to be exact is you actually need to speak to them directly. i declare myself that i am not living in the past, but the past taught me really much of life lessons which i reckon that i failed some of the times and in some parts i succeed. but why do i care what people think about me. The people who knows you the truth is your family, who had live with you for almost half of your time in this loving earth.

So, here i am, away from home and trying to complement my life into something which i reckon its still a mystery and yet its like chasing a ghost. a ghost for me now its like a metaphor. you know whenever you trying so hard to find a ghost, that ghost is actually never appeared to you. all you need is wait for the moment with a good preparation of course. what i am saying is that ghost equally means to an idea. an idea for the my final project that soon i will be working on and hopefully, will have some funding to cooperate with.

anyway, i am bluffing. what the hell. i don't really care. does my blog useful for others? i  have no idea. lets say i just working on to write in english, practicing for the upcoming essays. and what is new?? ooh there is going to be plenty of new things. i believe that. and now, whilst i am preparing stuff, i also going to be waiting for the moment. ok, ok i know, you might say, you can't wait for the moment, you need to chase it. all right, chill woman, i am running into it whilst also enjoying life and moment itself. no need to rush, you'll be miss this moments. Fuck what others say about what i am going through.

Glow, glow baby, Glow, that is all you need. And, feel bless and have faith in whatever your circumstances.

Cheers. xxx


Thursday, 26 December 2013

Tanda tanya.

Suara angin kencang di luar malam ini.
Kedua tangan dan kaki dingin seperti direndam air es. 
Aku ingin hangat. 
(Mungkin) dalam pelukan.

Suara angin seperti badai datang tanpa diundang. 
Di malam hari. Ketika manusia-manusia sedang terlelap. 
Ngeri, karena sendiri. 

Jendela yang sudah tertutup rapat masih saja bergerak, seperti ingin terlepas dari engselnya. 
Datang tak diundang dan disangka. 

Ada apa dengan raja malam hari ini?. 
Sedang rindu menggebu kah dia dengan kekasihnya?. 
Kekasih yang didamba, yang tak pernah tahu rasa hati si raja malam. 

***
(Mungkin) sama seperti ceritaku. 
Dia datang tanpa diundang. 
Dan tak disangka ada rasa tumbuh di kala waktu berjalan. 
Aku tidak mengenal dia sepenuhnya. 
Karena dia, menyimpan rapat perasaannya. 

Hari-hari berlalu. Celotehan, senyum dan tawa yang menghiburku. 
Saat bersama kamu. 
Kala itu, masih abu-abu. 
Entah kini?. Mungkin masih sama.
Kenapa? Mungkin karena kamu. 

Ya, karena kamu. 
Hari itu aku bertanya dan kamu menyatakan. 
Katamu, "tak pernah mudah untuk hal itu". 
Aku menanggapi dengan tawa, tapi dalam hati, kucatat rapih dan ingat betul kalimat itu. 

Salahkah aku?. 
Yang menaruh hati kepada kamu.
Walaupun hati ini masih ragu. 
Karena aku takut. 
(Mungkin) sama seperti kamu. 

Ada rasa ingin tahu yang setiap hari terlintas di pikiran. 
Ada tetiba rindu yang datang di kala gelap tiba.
Ada khayalan yang mengantar untuk terlelap. 
Ada kenangan yang membuat senyuman dan geli menggelitik.
Ada harapan yang membuat semangat. 

Hanya saja, ini semua masih tanda tanya. 
Mungkin saja, aku hanya dibodohi dengan pikiran dan impian dangkal yang kurangkai.
Hingga aku terjatuh lagi seperti keledai. 

Kamu. 
***



Wednesday, 25 December 2013

Pesan.

Pagi itu, dia datang dengan muka bingung.
Tempat baru, muka-muka baru, pengalaman baru. 

Aku sedang duduk dan asik mengetik di meja kubikel. 
Tak ada yang istimewa hari itu. 
Lagi, datang orang baru, perkenalan baru. Gumamku.

Dari balik meja kubikel, aku memperhatikan dia. 
Gerak geriknya, seolah pernah bertemu dan berkenalan. 
Kutepis pikiran itu. Aku kembali mengetik.
 
Tapi, dia seolah punya magnet yang menarik mataku untuk sekali lagi melihatnya. 
Dan, entah berapa kali aku mencuri untuk melihatnya di sela-sela ketikan naskahku. 

Waktu terus berjalan. Ada cerita dalam waktu berjalan. 
Ada kalimat yang ingin diucap. 
Ada pikiran yang kerap kali datang bertanya. 
Ada pesan yang tersirat. 

Tak yakin apa ini namanya. 
Apakah ini rasa? Yang kembali datang? Setelah menyakiti dan pergi begitu saja beberapa bulan lalu.
Adakah rasa ini terbalas atau terhempas? 
Seperti cerita yang lalu. 

Ketika rasa itu tumbuh. 
Dan bayangan dia bersatu. 
Menjadi simpul-simpul harapan untuk bersatu. 

Anganku terbang jauh. 
Berusaha menggapaimu dalam mimpi dan cerita khayalku. 
Tak ingin rasa ini seperti cerita lalu. 
Adakah aku sekejap dalam pikiranmu? 

Ada pesan yang ingin kusampaikan. 
Dari jarak ribuan mil ini.
Membayangkanmu. 
Mengingat waktu bersama walau sekejap.

Ada rasa yang tumbuh. 
Yang kusendiri tak tahu kemana kan berlabuh. 
Ada pesan untuk kamu. 
Tapi, entah kapan kamu akan tahu. 
Setahun? Dua tahun? Tiga tahun?
Atau mungkin kamu tak akan pernah tahu. 

Karena aku takut. 
Kamu akan berakhir seperti cerita yang lalu. 

Meski begitu, ini pesanku untukmu saat ini. 
Sampai bertemu, lagi. 


-Salford, 26 Desember 2013, 03:34 am- 

Tuesday, 10 December 2013

Malam panjang di Eropa. Bagian 2

Aku duduk termenung di depan layar laptop menyala. Baru saja selesai chatting dengan salah satu teman di kampus melalui media sosial facebook, setelah dia berpamitan untuk tidur aku kembali termenung dan mulai kembali berkhayal, menerawang malam. Sudah dua malam ini tidak turun hujan, jendela kamarku kering dan kini aku merindukan titik air hujan yang melekat di jendela. Ada sebuah simpul cerita menarik ketika mengamati titik-titik air hujan itu. Mungkin aku terlalu melankoli sebagai pribadi, tapi kesendirian ini membawa aku ke alam melankoli dan tak jarang aku menemukan hal-hal positif yang menjadi penyemangatku disini.

Terulang lagi. Aku kembali tertidur pukul delapan malam waktu Manchester dan kupikir akan terbangun saat terang mulai muncul, ternyata masih gelap. Aku terbangun pukul sembilan malam. Kejadian ini sudah terulang beberapa kali dalam tiga hari berturut-turut, perbedaannya hanya pada waktu tidur dan bangun. Hasilnya aku akan terbangun sampai pukul lima pagi atau jika kupaksa untuk tidur kembali, pukul tiga pagi aku pejamkan mata demi menjaga kesehatan. Tapi apalah bedanya.

Aku mengambil sebatang rokok Sampoerna yang sengaja kusimpan setelah kudapatkan secara gratis saat mengunjungi teman di Coventry. Kupikir rokok Sampoerna tinggal sisa satu batang ternyata masih ada dua batang dan kedua batang rokok ini akan aku simpan hingga nanti, jika aku mendapatkan kiriman. Itu jika aku mendapat kiriman dari Jakarta. Sambil asik mengepul asap dari tembakau Indonesia, aku pun kembali menerawang. Menelaah apa yang kurasa beberapa waktu ini. Siang tadi ketika ke dapur saat menyiapkan makan siang, aku menemukan dua bungkus kado dan dua kartu ucapan. kartu pertama ucapan natal dan kedua kartu ucapan ulang tahun yang tanggalnya masih di akhir bulan. Kedua bungkus kado ini kudapatkan dari salah satu teman flatku yang asli orang Inggris dan tinggal di Essex, di selatan kota London. Temanku ini baru saja berumur 22 tahun, kelakuannya masih sangat anak-anak. Seringkali membuat dapur berantakan, berisik, dan jorok. Tapi ada beberapa hal yang jadi pengecualian, memang dia cukup perhatian untuk beberapa hal meskipun akhir-akhir ini aku banyak menghindari temu sapa dengannya. Karena aku sedang tak ingin berbasa-basi. Tapi, aku cukup tersentuh karena kedua kado itu dan sungguh berterima kasih, lalu aku pun mulai berpikir untuk membeli hadiah natal untuknya.

Ya, akhir-akhir ini aku sedang tidak ingin berbasa-basi dengan kedua teman flatku. Selain teman flatku yang asli orang Inggris, namanya Helen, dan satu lagi teman flatku berasal dari Vietnam, namanya Loan. Aku cukup sering berkomunikasi dengan Loan dibanding Helen. Mungkin karena sesama Asia dan memiliki beberapa kesamaan dalam tata krama, kebersihan, kerapihan dan hal-hal simple lainnya. Seperti menutup pintu dapur tanpa suara. Helen sering sekali menutup pintu dengan cara membanting, memang tidak dia lakukan secara sengaja tapi karena kamarku persis di samping dapur, sering kali aku mendengar suara pintu dapur terbanting, lama-lama aku bisa jantungan. Akhirnya aku sampaikan rasa tergangguku kepada Helen mengenai pintu dapur. Berhasil, dia tidak melakukan hal itu lagi tapi hal lain masih saja terjadi, seperti saat dia mencuci piring dan merapikan piring dan alat masak lainnnya ke dalam lemari. Aku bisa pastikan pasti akan selalu ada suara dari dapur seperti mendengar orang sedang bertengkar. Aku malas berbicara jadi untuk hal itu kudiamkan saja dan berusaha berdamai dengan keadaan.

Entah kenapa beberapa hari ini aku malas sekali berbasa-basi. Aku hanya ingin diam di kamar dan tidak ingin diganggu. Bahkan sore tadi Loan dan Helen mengetuk kamarku tapi kudiamkan saja, padahal aku di kamar sedang duduk di depan laptop membaca beberapa artikel psikologi yang ditulis oleh temanku. Aku sedang tidak ingin diganggu maka kudiamkan saja ketukkan itu. Tak ada salahnya jika kubuka pintu itu dan berbincang-bincang sejenak. Tapi tak kutemukan chemistry untuk duduk makan malam bersama. Kali ini saja.

Inilah bulan Desember. Buatku bulan ini penuh makna. Selain menjadi bulan terakhir di setiap tahun, aku lahir di bulan ini, tiga hari menjelang pergantian tahun. Bulan ini menjadi sebuah kompilasi dalam semua peristiwa yang ada di dunia baik secara nasional dan internasional. Tapi ini sekaligus menjadi kompilasi peristiwa kehidupan pribadi. Entah akhir-akhir ini aku hanya ingin sendiri di dalam kamar ketika sampai di flat.

Jumat lalu, aku dan temanku Lili yang asli orang Perancis, memutuskan untuk pergi ke salah satu bar di kota. Kami sudah merencanakan ini jauh hari. Lili bilang "we need to lay off from our assignments, we need to have good drinks". Dan akupun mengiyakan ajakan Lili. Tak ada salahnya bagiku untuk keluar malam ke kota kali ini, dalam pikiranku adalah aku akan duduk bersama dengan orang-orang seumuran dan berharap bisa menjalin komunikasi yang lama kunantikan. Topik pembicaraan sederhana tapi tidak terlalu berlebihan seperti teman flatku Helen. Mungkin topik pembicaraan yang kurang lebih dewasa.

Jumat malam itu setelah kami selesai dengan tugas editing, akhirnya kami pergi menuju ke salah satu bar di kota, namanya Thirsty Scholar. Hmm, namanya cukup mewakili dari pribadi kami berdua malam itu. Bar yang terletak di bawah jembatan rel kereta api ini cukup menarik. Tidak besar tapi nyaman dan seperti layaknya English Bar kebanyakan, karena sudah masuk akhir minggu, bar dipenuhi dengan banyak orang berjas malam itu. English man in a suit, what a tempting scenery for that night. Yang lebih menyenangkannya lagi adalah di bar ini ada tempat duduk di luar dimana kami bisa menikmati bir dan rum cola sambil merokok. Walau suhu malam itu 9 derajat celsius. Aku pun tertawa geli dalam hati, mengingat masa dimana hari-hari sebelum aku berangkat ke Inggris. Aku kerap kali menghabiskan waktu sepulang kerja pergi ke salah satu tempat minum di daerah Gandaria, namanya Camden. Dan, akupun rindu teman-teman di tanah air, tapi aku pun menikmati pertemanan baru ini.

Kami berdua duduk di luar dan tak lama teman kami dari Wild Life Documentary, namanya Stuart, dia berasal dari Jerman. Kami pun mulai berbincang-bincang soal mata kuliah dan keluhan-keluhan terhadap kekecewaan yang dirasa di semester satu ini. Ternyata kami merasakan hal yang sama.

Jumat malam masih panjang di Manchester, setelah dari Thirsty Scholar, kamipun pindah menuju salah satu bar untuk bertemu dengan pacar Lili yang asli orang Inggris, namanya Albert. Kami pergi menuju bar namanya The Font. Malam itu aku menghabiskan waktu bersama Lili dan pacarnya dan teman-temannya. Ternyata aku baru tahu bahwa Albert, pacar Lili, sedang mengambil studi S3 dalam bidang Nuklir begitu juga teman-temanya yang mengambil studi S3 dengan berbagai bidang. Diantaranya penelitian tentang Titanium, Metal, dan lain-lain. Entahlah, aku sudah tidak konsen malam itu, mungkin karena dua gelas bir besar yang habis kuminum dan juga mungkin aku khawatir pulang malam sendiri naik taksi. Setelah dari The Font, kami pindang menuju salah satu bar yang kulupa namanya apa, kami pergi untuk bertemu dengan salah satu teman kelas kami, namanya Sander, orang asli Belanda. Sekitar sejam duduk di dalam dan minum satu gelas bir, akhirnya kami memutuskan untuk keluar dan aku memberanikan diri bilang "i need to go home".

"are you ok Nisa?". Tanya Lili.

"yeah, i am ok". Kataku yakin

"you seem kind of distance". Kata Lili.

"no, i am fine, i am having a good night tonight, really, i am. Is just that i can't take my mind off from the two projects, that's all". Kataku.

"aren't we all dear". Kata Lili

"yeah, so, i'll see you on monday then?". Kataku

"yeah sure, you take care baby girl. have a good weekend". Kata Lili.

Aku pun menyetop taksi dan masuk ke dalam. Dalam perjalanan pulang, aku mengamati pemandangan jumat malam di kota Manchester. Ada rasa sepi yang tiba-tiba datang melanda, mengharapkan ada seseorang yang bisa kuajak bicara dan tertawa lepas malam itu. Tapi ada pula rasa syukur karena aku disini. Aku di benua Eropa, jauh dari orang-orang yang kukenal setiap hari, muka-muka familiar yang kini kurindukan. Tapi ada pula perasaan yang sampai saat ini sulit untuk aku deskripsikan. Apapun rasa itu aku hanya mengucap syukur atas apa yang kudapat hari ini dan tentunya selamat sampai di rumah.

Jumat malam di Manchester, masih panjang. Sesampainya aku di kamar, aku ganti baju dan bersih-bersih dan seperti biasa aku duduk manis di meja belajar sambil menatap layar laptop yang menyala dan memasang lagu-lagu favorit di playlist Itunes. Mulai mengecek beberapa email pribadi dan email kampus dan tentunya e-learning kampus di Blackboard sistem. Aku lelah, kuputuskan untuk mematikan laptop, dan aku pun naik ke kasur dan menyelimuti diri agar merasa hangat betul dan mengambil salah satu buku yang ada tepat di rak dekat kedua jendela besar kamarku. Buku Sophie's World membawaku ke alam fiksi tentang pengenalan dunia filsafat.

.......

Monday, 9 December 2013

Malam panjang di Eropa. Bagian 1.

Tik..tik..tik..tik.. seperti itukah bunyi air hujan jatuh dari langit?.

Hari minggu belum berakhir. Masih pukul lima sore waktu Manchester, tapi gelap seperti pukul sepuluh malam waktu Jakarta. Jendela kamar sengaja kubuka agar udara segar masuk ke dalam kamar, selain itu juga dikarenakan saat bekerja ataupun santai aku suka merokok di dalam kamar meski dilarang oleh pengelola gedung. Minggu sepi. Seharian aku habiskan hari dengan bermalas-malasan di dalam kamar. Berselimut di kasur sambil membaca atau mengecek media sosial sambil ingin tahu ada apa dengan teman-teman di Jakarta atau selain itu aku habiskan waktu dengan berkhayal. Ya, berkhayal? anehkah kedengarannya?.

Kuputuskan bangun dari kemalasan di kasur. Tanpa sadar hujan sudah turun dan bercak air hujan menetes turun di jendela kamar. Angin mulai berderu kencang, hawa dingin mulai mendominasi kamar dan akupun mulai mengigil. Kamarku berada di lantai 15. Ini bukan apartemen mewah layaknya di Jakarta tapi ini lebih kepada sebuah flat berlantai 15 dan setiap flat ada yang berisi tiga atau empat kamar. Aku, kebetulan mendapat flat yang berisi tiga kamar, meski harus berbagi dapur dan kamar mandi tapi paling tidak aku punya kamar sendiri. Kamar yang kutempati cukup dibilang besar, ruangan yang berukuran 3 x 6 m dengan dua jendela besar yang menghadap ke gedung flat lain dan pemandangan rumah penduduk. Jika malam tiba atau jelang matahari terbenam adalah pemandangan terbaik yang bisa dinikmati dari jendela kamarku. Tidak banyak perabotan di dalam, hanya beberapa furnitur sesuai dengan fungsinya, tempat tidur kasur yang dibawahnya terdapat empat laci yang bisa diisi dengan barang-barang, lemari pakaian, meja belajar, rak buku dinding dan pemanas ruangan. Kamarku adalah rumah kecilku yang sengaja kubuat senyaman mungkin, sehingga aku merasa nyaman berjam-jam di dalam kamar, dan memang aku selalu berhasil membuat nyaman untuk "kandangku" sendiri. Tidak ada yang mewah, semua serba sederhana, semua yang ada sesuai dengan kebutuhan dan fungsinya masing-masing.

Aku duduk di meja belajar dengan laptop menyala. Genap sudah tiga bulan aku merantau jauh dari rumah. Kebiasaan bermalas-malasan masih melekat, tapi pembelaanku adalah tak ada salahnya menikmati waktu tanpa melupakan prioritas kewajiban. Hari ini, kalender menunjukkan tanggal 27 Oktober 2013, beberapa teman di kampus kemarin lalu mengingatkan untuk memundurkan waktu satu jam lebih lambat. Musim gugur segera berakhir dan selamat datang musim dingin. Perdebatan soal waktu ini ternyata dibahas di berita nasional di Inggris, haruskah tiap memasuki musim dingin, kita mengatur ulang waktu satu jam lebih lambat?. Tampaknya perdebatan belum menemukan solusi dan harus tetap mengalah dengan sistem waktu Greenwich.

Brrr...angin malam makin dingin dan suaranya semakin kencang. Karena berada di lantai paling atas, suara angin semakin kuat terdengar. Inilah musim dingin di Eropa. Pukul empat sore tadi matahari mulai terbenam dan gelap semakin gulita. Aku bahkan sering ragu jika pulang malam dari kampus padahal waktu masih menunjukkan pukul enam sore.

Hari ini aku merasa lelah, entah karena apa. Padahal aku tidak banyak melakukan aktivitas. Mungkin otakku yang lelah, banyak berpikir tapi tak ada aksi, yang nyata hanyalah menunda. Aku pergi ke dapur. Memasak adalah salah satu pelarianku kini ketika merasa mulai banyak pikiran dan tak bisa berlaku banyak dan memasak pula menjadi obat bagiku untuk merasa tenang dan nyaman, ya, mungkin karena ini urusannya dengan perut kenyang. Dan memasak ternyata sebuah "hobi" yang terpendam sekian lama. Aku merasa hidup dan sepenuhnya menjadi perempuan. Di saat waktuku sendiri di dapur, tanpa kehadiran dua teman flat, aku kadang berkhayal. Aku memasak untuk diriku dan seseorang yang sebentar lagi pulang. Menanti seseorang pulang dengan muka lelah dan kedinginan, lalu kusambut dia dengan masakan hangat dan muka lelah menjadi sumringah. Dengan pelukan hangat dan kecup di pipi kiri kanan dan kening sambil berkata "makan yuk, aku udah masak buat kamu". Hal paling dasar bagi manusia untuk bertahan, makan. Tapi itu hanyalah khayalan, kenyataannya aku memasak untuk diriku sendiri dan inilah yang paling aku suka, ketika masakan sudah matang. Aku mulai menata meja belajar ku agar terdapat ruang bagi beberapa piring yang akan aku bawa ke dalam kamar, laptop sudah menyala siap menayangkan beberapa film untuk menemani ku saat makan. Meskipun film itu sudah berkali-kali aku tonton, tetap saja aku menikmatinya.

Ini masih hari minggu dan besok senin. Sudah tidak ada mata kuliah yang wajib aku hadiri tapi hari-hari akan dipenuhi dengan mengerjakan tugas yang menjadi ujian semester pertama. Malam masih panjang, aku duduk sambil makan dengan menonton "She's all that". Film lama di saat masih duduk di bangku SMA.

.........

Sunday, 8 December 2013

hujan malam.

Masih pukul lima sore waktu Manchester tapi langit sudah gelap gulita seperti pukul sepuluh malam waktu Jakarta.

tik..tik..tik..tik.. seperti itukah bunyi air hujan yang jatuh dari langit?. 

Setengah jam lalu, saya baru saja selesai makan, setelah lewat sarapan pagi dan makan siang. Jendela kamar terbuka sekitar tiga puluh sentimeter, suara angin mulai menderu kencang. Hawa dingin mulai merasuki kamar di lantai lima belas. Album The Milo asyik berputar di Itunes playlist minggu sore ini. Minggu sepi.

Salah langkah. Harusnya tidak melakukan apa yang dilakukan satu jam yang lalu. Damn!. Merasa bodoh, walaupun tidak banyak. Hanya sekali lagi, mengulang kebodohan yang sama karena rasa tidak sabar. Ingin ada lawan bicara.

Rasanya tidak perlu jauh-jauh berpikir dan mencari tahu akhir dari cerita selewat ini, karena sejarah hanya berulang. Dan, lagi-lagi saya hanya berputar di lingkaran yang sama. Harus berapa kali lagi saya melewati ini?. 

Lebih baik tidak punya rasa daripada punya rasa tapi terbebani.  

Senyum-senyum kecil itu mulai mereda dan perlahan pergi ke tempat asalnya. Entah bisa bertemu lagi atau tidak. 

Bermain-mainlah dengan rasa tapi berhati-hati lah, layaknya kamu bermain dengan api. Berawal dengan keseruan, menghangatkan tapi tak pernah tahu jikala api akan membakar kamu.

Lukanya membekas, tak pudar oleh waktu bahkan keriput kulit tidak bisa menutupi luka bakar itu. Jadi, berhati-hatilah jika kamu bermain-main.


Salford, 8 Desember 2013, minus 3 derajat celsius.

Tuesday, 3 December 2013

"Wow factor" film Gie.

Saya lupa tepatnya tahun berapa pertama kali film ini keluar, dan di bioskop mana untuk menontonnya yang pasti saya ingat adalah saat itu masih duduk di bangku kuliah antara semester dua atau tiga, atau mungkin ingatan saya juga salah. 

Hari ini saya kembali menonton film "Gie" lewat website Youtube, dan terima kasih kepada sang pemilik akun yang meng-upload filmnya sampai habis. Ketika menontonnya kembali, perasaan saya masih sama. Film ini, memiliki "wow factor" tersendiri dan somehow it feels really emotional for me,(istilah ini, saya baru tahu dan pahami dari hasil bincang-bincang dengan salah satu teman). Dan, ya, "wow factor" itu masih saya rasakan, sama seperti pertama kali saya menontonnya. Hanya saja, kali ini saya kurang lebih memperhatikan beberapa aspek yang ada di film ini.

Ok, where to begin. Akting para pemain. Hmm, menurut saya, hampir di semua para pemain di film ini, baik yang utama atau membantu, memiliki karakter yang cukup kuat. Walaupun Nicholas Saputra (sebagai Gie) adalah sang bintang utama dari cerita film ini. Segala macam bentuk emosi yang ingin ditampilkan oleh sang sutradara diperankan cukup baik oleh setiap para pemain meskipun ada beberapa hal yang sedikit menganggu saya. Cara jalan Soe Hok Gie yang menurut saya kurang jantan, karena dalam benak saya, Gie, sosok mahasiswa yang berkarakter kuat sebagai laki-laki, dengan pemikiran-pemikirannya yang berani, lugas, dan memberontak, meskipun ada sisi sensitif, lembut melankolis di dalam dirinya. Apakah cara jalan dan pemakaian atribut tas di bahu menjadi sebuah simbol sensitivitas dari Gie??, atau ini adalah hasil dari bagian riset dari tim pembuat film mengenai karakter fisik Gie, sehingga tidak hanya menampilkan kisah seorang mahasiswa pemberontak yang memperjuangkan keadilan di Indonesia tapi juga ingin menampilkan bagaimana gerak gerik Gie ketika di masa hidupnya, dan juga Nicholas Saputra terlalu tampan untuk mewakili Gie. Meskipun ketampanan Nicholas Saputra bisa dikatakan sebagai daya tarik untuk minat masyarakat menonton film yang cukup kental bercerita tentang sejarah indonesia di masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Soeharto. Jujur saja, pada masa film ini keluar siapa yang mau nonton film tentang sejarah sih??. Kecuali bagi mereka yang mengenal sosok Gie dan tahu akan perjuangan dia, sebelumnya siapa yang mengenal Gie, apalagi generasi saya yang cenderung cuek dan lebih tertarik pada budaya barat, kecuali bagi mereka yang aktivis kampus (mungkin).

Ketampanan pemeran utama memang jadi daya tarik yang sukses tapi bagusnya Nicholas Saputra cukup piawai memainkan karakter Gie, meskipun saya cenderung lebih memperhatikan akting Jaka yang diperankan oleh Donny Alamsyah. Karakternya tidak berperan banyak tapi cukup mencuri perhatian dengan aktingnya yang mampu mewakili kerasnya jiwa pemberontak idealis kampus namun kalah juga akhirnya dengan materi dan kemewahan yang ditawarkan oleh kedudukan di pemerintahan. Singkat tapi padat dan kurang lebih mewakili realita yang ada di pemerintahan saat ini, dan terbukti banyak yang seperti itu bukan?.

Dari durasi film yang kurang lebih dua jam, bagian paling menarik bagi saya adalah tembok yang pertama kali muncul di adegan pertama film ini. Di mana, dari awal hingga akhir tembok ini hampir selalu ada di setiap adegan, seperti menjadi simbol pergantian waktu. Mulai dari penulisan revolusi, ganyang PKI, hingga akhirnya tembok itu diruntuhkan dan diganti dengan pagar seng yang bertuliskan "dilarang berjualan di sini", dan pada masa adegan itu berlangsung militerisme berkuasa di pemerintahan Soeharto. Tembok itu seperti menjadi simbol saksi bisu sejarah dari apa yang dialami Soe Hok Gie dan masyarakat pada masa itu. Entah ada atau tidak benarnya tembok itu di kehidupan nyata, tapi sang sutradara seperti ingin menyiratkan pesan tersendiri dengan visual tembok itu. Lalu, suara adzan yang hampir ada di setiap adegan yang menggambarkan visualisasi pagi, malam, atau pun subuh , entah apa maksud dari sutradara menampilkan visual rumah-rumah dan menara mesjid dengan suara adzan. Apa yang saya tangkap adalah bahwa masyarakat indonesia didominasi beragama Islam dan Gie adalah warga indonesia keturunan Tionghoa beragama Kristen Katolik yang menjadi minoritas, dan visual ini menyiratkan bahwa sosok Gie tidak pernah membeda-bedakan manusia atas dasar agama atau ras dan yang dia pedulikan adalah sebuah keadilan bagi bangsanya.

Hmm, kemudian yang membuat saya berpikir juga adalah bagaimana tim properti mencari lokasi yang mampu menampilkan kondisi kota Jakarta di tahun 60-an, mengingat cukup sulit mencari gedung-gedung atau rumah-rumah tua yang masih berdiri di Jakarta, dan juga mengumpulkan sekian banyak mobil-mobil yang mewakili tahun tersebut. Saya sebagai penonton jadi terbawa suasana akan kota Jakarta tempo dulu, apalagi ketika Gie pulang sekolah setelah pembagian raport bersama Ibunya, dan ketika Gie minum es cendol dan sang Ibu datang menghampiri. Saya jadi bertanya-tanya apa benar dulu di Jakarta ada taman seperti itu, dimana para pedagang berkumpul menjajakan jualannya. Taman atau pasar pedagang kaki lima mangkal itu memberi kesan yang sangat natural dan humanis. Meskipun kini Jakarta masih memiliki taman di tengah kota tapi nuansanya berbeda, angkuh dan tidak bersahabat walau sang taman mengisyaratkan untuk datang berkunjung, tapi manusia modern lebih memilih ke mall daripada ke taman kota karena dianggap tempat kumpulnya kelas sosial ke bawah dan terkesan kriminal. Di film ini, bagi saya taman kota itu lebih bersahabat, setiap kelas sosial datang dan menikmati atau paling tidak melewati taman itu. Ah, jaman sudah berubah.

Cinta. Kisah drama cinta. Sepertinya film kurang sah kalau tidak ada drama cintanya. Hmm, kisah cinta anak muda, di film ini tidak banyak adegan ataupun naskah yang menceritakan kisah cinta Gie secara gamblang, namun beberapa adegan mengisyaratkan cinta Gie jatuh pada gadis bernama Ira. Ketika Gie datang ke rumah Ira dan duduk berdua meskipun ditambah dengan naskah pertanyaan Gie terhadap Ira, adakah kerikuhan yang dirasa Ira ketika berdua dengannya. Sebenarnya, menurut saya tanpa ada naskah pun emosi sudah terbangun dengan alunan musik dari Titiek Puspa lalu ditunjang pula dengan suasana lampu temaram sudah berhasil membangun suasana dramatis romantis, sehingga tanpa adanya Gie bertanya pun, kerikuhan itu sudah terasa, tapi toh  mungkin tujuan sutradara, naskah itu lebih ingin menekankan dan memastikan perasaan yang ada di antara mereka biar ada bumbu drama semakin menjadi biar tidak seperti film tanpa naskah atau hanya pemanis saja. Kemudian, adegan Gie tertawa di depan pagar rumah diselingi dengan menangis namun ditutupi dengan tawa, kesan yang didapat betapa Gie merindukan dan membutuhkan Ira pada saat itu, hingga tawa dan tangis Gie menjadi naskah itu sendiri. 

Lalu, adegan Gie duduk di puncak Gunung Semeru, ketika dia menulis di buku hariannya dengan kalimat, "kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta". Ah, kalimat ini maknanya dalam, begitu menjelaskan secara tersirat kenapa Gie dan Ira tidak bisa bersama (mungkin) dan visualisasi dengen kesendirian Gie di puncak sambil duduk setelah mengalami rasa lelah, terasing, patah hati, namun Gie tahu kemana dia ingin berpulang, pada akhirnya seberapa kuat, tegarnya laki-laki, dia akan butuh perempuan sebagai sandaran tempat berpulang melepas lelah dan rindu. Dan, ya, ternyata cinta Gie begitu dalam kepada Ira dan dipendam, dan menjadi penutup akhir cerita Gie di masa hidupnya.

Dramatis dan penuh emosi,  lalu narasi kalimat Gie "haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram, wajah-wajah yang tak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti, sepeti kabut pagi itu", lalu disambut dengan adegan Han, sahabat kecil Gie yang meninggal ditembak di pulau Bali saat pemberantasan pengikut PKI, adegan ini menceritakan dimana Gie meninggal di Gunung Semeru. Sang penulis skenario berhasil mengkawinkan antara kalimat Gie yang menjadi narasi dengan visual yang dramatis, suasana pagi dingin di atas gunung. Mengisahkan Gie meninggal yang meninggal karena gas beracun dari Gunung Semeru dengan melankoli perasaan terasing namun bebas dan juga lelah tapi juga lega.

Satu lagi, bagaimana sutradara menggambarkan adegan sejarah tentang pemberantasan pengikut PKI yang ditembak oleh militer secara rahasia di pulau Bali. Dengan adegan Gie duduk menonton pertunjukkan wayang dengan kerut di dahi dan peluh di muka, menggambarkan kekhawatiran dan kesedihan juga rasa penasaran Gie terhadap apa yang terjadi terhadap sahabat kecilnya, mempertanyakan dan berusaha menguak apa yang disembunyikan oleh pemerintah saat itu. Adegan di film ini bolak balik ke Gie yang menonton wayang, lalu Han yang disekap di penjara,  lalu pertunjukkan wayang, lalu ditutup dengan Han tersenyum lega melihat pantai, lalu meninggal ditembak di salah satu pantai di pulau Bali. Hmm, betapa persahabatan diantara laki-laki begitu intim, kuat, dan bermakna dibanding perempuan, dengan adegan itu, menampilkan emosi Gie yang sedih teringat sahabat kecilnya, sayang jika melihat kondisi sekarang jika persahabatan karib antara laki-laki suka disalah artikan, atau jaman sudah berubah? iya (mungkin). 

Wayang, saya jadi bertanya kenapa dengan pertunjukkan wayang? Mengapa sutradara mengaitkan pertunjukkan wayang dengan kisah pemberantasan pengikut PKI?. Dengan apa yang saya tahu, pertunjukkan wayang menyimpan suatu isyarat dan terkesan misteri dan rahasia, begitu pula dengan kisah yang terjadi dengan sahabat Gie, memiliki isyarat, misteri dan rahasia dari pemerintahan yang berkuasa pada masa itu. Gie berusaha menguak cerita itu dengan menerbitkannya melalui surat kabar, dimana surat kabar tersebut menimang kembali untuk menerbitkan tulisan Gie, yang berarti (mungkin) kisah sejarah itu memang diisyaratkan untuk menjadi misteri dan rahasia. Ah, entahlah, seingat saya belajar sejarah di masa sekolah dulu, saya tidak pernah baca ini atau memang lupa atau memang tidak peduli??.

Oh, adegan ketika pemerintahan Soekarno jatuh, sangat dramatis. Dibuka dengan adegan Gie bangun tidur lalu loncat ke adegan Soekarno bangun dari tempat tidur, berjalan keluar dengan masih memakai pakaian tidur, lampu di istana satu per satu mati. Dengan suara berita dari radio menjadi narasi yang lalu berhenti dilanjutkan dengan alunan musik dramatis menandakan masa pemerintahannya telah berakhir, Soekarno habis, dan adegan Gie mandi menjadi cerita akan hari baru bagi Gie setelah perjuangannya menggulingkan pemerintahan Soekarno.

Adegan yang menyentuh bagi saya adalah saat Gie membuka percakapan dengan ayahnya. Selama di film, ayahnya tidak pernah berkata apapun dan jika tidak tahu sejarah tentang Gie, kita tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan ayah Gie, tapi adegan ini menjawab siapa dan apa sebenarnya ayah Gie. Mungkin karena terkoneksi dengan masalah pribadi, adegan ini begitu menyentuh saya, meskipun ayahnya tidak pernah berbicara tapi dengan duduk diam di meja saat Gie tertidur pulas memberikan sentuhan emosional yang kental bahwa sang ayah khawatir dan perhatian terhadap anak lelakinya dan Gie mengambil momen itu untuk berbicara kepada ayahnya. Suasana dengan lampu minim, buku catatan merah dan mesin tik, seolah berbicara dan mewakili emosi yang terjalin di antara ayah dan anak laki-lakinya.

Hmm, saya masih "wow factor" dengan film ini, sejauh ini, film "GIE" sukses menceritakan kisah hidup seorang pejuang muda tahun 60-an yang memegang peranan dalam sejarah Indonesia. Setidaknya, dengan menonton film ini menjadi sebuah mediasi lain dalam menyampaikan sejarah  Indonesia melalui kacamata seseorang yang berjuang menegakkan keadilan dan pemerintahan yang bersih di negara ini, dan ironinya sampai saat ini belum terwujud. Kalau bagi saya pribadi, film ini wajib masuk dalam koleksi film, karena, mungkin di masa depan menjadi media cerita pengingat bahwa perjuangan Gie masih terus berlanjut dan (mungkin) diharapkan akan lahir Gie-Gie yang lain, demi mewujudkan Indonesia lebih baik.